RADAR SURABAYA BISNIS - Di tengah ketidakpastian ekonomi dan gejolak pasar global, emas kembali menjadi aset favorit banyak bank sentral dunia.
Tren pembelian emas oleh bank sentral pun masih berlanjut sepanjang awal 2026, termasuk dilakukan oleh Bank Indonesia.
Berdasarkan laporan terbaru bertajuk Gold Demand Trends Q1 2026 yang dirilis World Gold Council (WGC), Bank Indonesia tercatat menambah sekitar 2 ton emas ke cadangan devisanya selama kuartal pertama tahun ini.
Global Head of Central Banks World Gold Council, Shaokai Fan, menyebut pembelian emas oleh BI sejalan dengan tren yang juga dilakukan sejumlah bank sentral lain di kawasan Asia maupun dunia.
Baca Juga: Rupiah Tembus Rp 17.600! Pakar Keuangan Imbau Masyarakat Lakukan Strategi Ini Agar Tabungan Aman
"Bank Indonesia berkontribusi dengan menambah 2 ton emas ke dalam cadangan devisanya, sejalan dengan pola pembelian bank sentral di kawasan yang lebih luas," ujar Shaokai saat menyampaikan laporan secara virtual, Rabu (13/5).
Secara global, bank sentral tercatat menambah sekitar 244 ton emas ke cadangan dunia selama kuartal I 2026.
Jumlah tersebut bahkan melampaui capaian kuartal sebelumnya serta berada di atas rata-rata pembelian lima tahun terakhir.
Menurut WGC, langkah agresif bank sentral memborong emas menunjukkan bahwa logam mulia masih dianggap sebagai aset cadangan yang aman di tengah kondisi pasar yang penuh ketidakpastian.
"Aktivitas pembelian ini menegaskan peran unik emas sebagai aset cadangan utama yang sangat penting di tengah turbulensi pasar yang ekstrem," kata Shaokai.
Meski banyak negara meningkatkan cadangan emasnya, beberapa bank sentral justru memilih melepas sebagian simpanan emas mereka.
Beberapa di antaranya adalah Bank Sentral Turki, Bank Sentral Rusia, hingga Dana Minyak Negara Azerbaijan atau SOFAZ.
Penjualan emas tersebut dilakukan dengan berbagai tujuan, mulai dari menjaga stabilitas nilai tukar mata uang hingga mendukung kebutuhan investasi negara masing-masing.
Di sisi lain, permintaan emas global juga mengalami peningkatan.
WGC mencatat total permintaan emas dunia pada kuartal I 2026 mencapai 1.231 ton, naik dibanding periode yang sama tahun sebelumnya yang berada di angka 1.205 ton.
Baca Juga: Harga Sembako Surabaya, Gresik, Sidoarjo Senin 18 Mei 2026, Daging dan Telur Turun
Tak hanya dari sisi permintaan, produksi emas dunia juga mengalami pertumbuhan.
Bahkan, produksi tambang emas global mencetak rekor baru untuk periode kuartal pertama.
Indonesia menjadi salah satu negara yang ikut mendorong kenaikan produksi tersebut.
WGC menyebut peningkatan produksi tambang emas nasional didukung oleh pulihnya operasional tambang Batu Hijau setelah ekspansi fasilitas pengolahan atau mill expansion.
Baca Juga: Rupiah Rontok Lagi di Tengah Penguatan Dolar AS dan Lonjakan Harga Minyak
Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa sektor emas masih menjadi salah satu instrumen penting dalam menjaga stabilitas ekonomi dan cadangan devisa di tengah dinamika global yang terus berubah. (iza/han)
Editor : Hany Akasah