RADAR SURABAYA BISNIS – Pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat (AS) yang terus mengalami tekanan hingga menyentuh level Rp 17.600 per dollar AS memicu kekhawatiran masyarakat terhadap keamanan nilai tabungan dan penempatan investasi.
Lonjakan ini berdampak langsung pada kenaikan harga barang di pasar domestik, terutama komoditas yang berasal dari jalur impor.
Menanggapi situasi krusial ini, perencana keuangan profesional Andi Nugroho menegaskan bahwa langkah paling mendasar yang wajib diambil oleh masyarakat adalah memastikan ketahanan domestik melalui pengelolaan dana darurat dan pemenuhan kebutuhan pokok secara ketat.
"Jika pendapatan kita tergolong terbatas, pengelolaan pengeluaran harus dilakukan secara benar-benar disiplin. Prioritaskan kebutuhan utama terlebih dahulu. Jika tidak ada urgensi yang mendesak, sebaiknya tunda dulu belanja non-pokok dan fokus untuk menabung," ujar Andi.
Bagi masyarakat yang beruntung memiliki dana berlebih atau surplus keuangan, Andi menyarankan agar mengalihkan penempatan modal ke instrumen investasi yang bersifat likuid dan memiliki profil risiko rendah. Beberapa pilihan terbaik saat ini adalah Surat Berharga Negara (SBN) ritel, seperti Obligasi Negara Ritel (ORI) dan Sukuk Ritel.
Baca Juga: Harga Sembako Surabaya, Gresik, Sidoarjo Senin 18 Mei 2026, Daging dan Telur Turun
"Dalam situasi volatilitas makro seperti sekarang, instrumen utang negara seperti ORI atau Sukuk Ritel jauh lebih aman karena kestabilannya yang dijamin pemerintah, tidak sekstrem pergerakan di pasar saham. Selain itu, Reksa Dana Pasar Uang (RDPU) juga menjadi alternatif yang sangat baik bagi investor pemula yang membutuhkan likuiditas tinggi," tambahnya.
Selain instrumen berbasis surat berharga, emas batangan tetap memegang peranan vital sebagai aset lindung nilai jangka menengah hingga panjang.
Walaupun harga emas saat ini sudah berada di level yang cukup tinggi, emas dinilai tetap prospektif asalkan diinvestasikan untuk jangka waktu minimal tiga tahun.
Baca Juga: Rupiah Rontok Lagi di Tengah Penguatan Dolar AS dan Lonjakan Harga Minyak
Di sisi lain, Andi memberikan peringatan keras terkait tren kepemilikan mata uang asing (valas) seperti dollar AS. Ia meminta masyarakat untuk menjauhkan diri dari perilaku ikut-ikutan atau FOMO (Fear of Missing Out).
"Jangan sampai karena melihat dollar AS sedang naik tinggi, lalu semua orang ikut-ikutan membeli tanpa tujuan yang jelas. Pembelian valas harus didasarkan pada kebutuhan riil, misalnya untuk biaya pendidikan anak di luar negeri atau proteksi nilai aset yang terukur. Jika dipaksakan tanpa pemahaman profil risiko, yang ada justru potensi kerugian besar," kata Andi.
Bagi publik yang memang memiliki kebutuhan fundamental untuk membeli dollar AS, Andi merekomendasikan metode investasi berkala atau dollar cost averaging (DCA). Strategi ini dilakukan dengan cara mencicil pembelian secara bertahap guna memitigasi risiko fluktuasi nilai tukar yang tajam.
Baca Juga: Lanjutkan Tren Pelemahan, Emas Antam Terkoreksi Minim Hari Ini
"Kunci utamanya adalah kenali profil risiko diri sendiri, pahami posisi keuangan saat ini, serta terus belajar memahami instrumen investasi yang dituju. Kita harus tahu kapan momentum yang tepat untuk masuk dan kapan harus keluar," tutup Andi.
Editor : Hany Akasah