RADAR SURABAYA BISNIS - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali mengalami tekanan signifikan pada perdagangan Senin (18/5) pagi.
Mata uang rupiah tercatat melemah cukup tajam di tengah meningkatnya tekanan global, terutama akibat kenaikan harga minyak dunia dan melonjaknya imbal hasil obligasi pemerintah AS.
Berdasarkan data perdagangan Bloomberg pada pukul 09.02 WIB di pasar spot exchange, rupiah tercatat turun sekitar 51 poin atau melemah 0,29 persen ke posisi Rp 17.648 per dolar AS.
Pelemahan ini memperpanjang tren tekanan terhadap rupiah dalam beberapa waktu terakhir.
Baca Juga: Lanjutkan Tren Pelemahan, Emas Antam Terkoreksi Minim Hari Ini
Di saat yang sama, indeks dolar AS juga mengalami penguatan.
Indeks yang mengukur kekuatan dolar terhadap sejumlah mata uang utama dunia tersebut naik sekitar 0,06 persen ke level 99,34.
Tekanan terhadap rupiah terjadi seiring meningkatnya kekhawatiran pasar global terhadap lonjakan harga energi dunia.
Kenaikan harga minyak mentah memicu kekhawatiran terhadap inflasi global sekaligus meningkatkan permintaan terhadap dolar AS sebagai aset safe haven.
Baca Juga: Lia Istifhama Ajak Mahasiswa Perkuat Kepemimpinan dan Literasi Demokrasi
Selain itu, kenaikan imbal hasil atau yield obligasi pemerintah AS turut membuat arus modal global bergerak kembali menuju aset berbasis dolar.
Kondisi ini memberikan tekanan tambahan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Mengutip data TradingView, mayoritas mata uang Asia juga bergerak melemah terhadap dolar AS pada perdagangan pagi hari.
Sentimen kenaikan harga minyak menjadi salah satu faktor utama yang membebani pasar mata uang kawasan.
Berdasarkan data LSEG, dolar AS tercatat menguat sekitar 0,2 persen terhadap peso Filipina hingga mencapai level 61,683.
Selain itu, dolar juga naik sekitar 0,4 persen terhadap won Korea Selatan ke posisi 1.504,00.
Baca Juga: Update iOS 26.5 Resmi Hadir di Indonesia, Simak Fitur Baru yang Bikin Pengguna Android Iri
Sementara itu, dolar AS turut menguat sekitar 0,1 persen terhadap dolar Singapura hingga berada di level 1,2811.
Pergerakan tersebut menunjukkan tekanan dolar AS masih cukup dominan di pasar global.
Ketidakpastian ekonomi dunia, kondisi geopolitik internasional, serta lonjakan harga energi masih menjadi faktor utama yang memengaruhi arah pasar keuangan dan nilai tukar mata uang berbagai negara.
Pelaku pasar kini masih mencermati perkembangan harga minyak dunia dan arah kebijakan moneter Amerika Serikat yang dinilai akan sangat menentukan pergerakan rupiah dalam jangka pendek. (iza/han)
Editor : Hany Akasah