RADAR SURABAYA BISNIS - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali menunjukkan pelemahan signifikan pada perdagangan Jumat (15/5). Mata uang rupiah bahkan mencatat level pelemahan terbaru setelah dibuka di posisi Rp 17.614 per dolar AS, dilansir dari CNN Indonesia.
Berdasarkan data perdagangan pagi hari, rupiah tercatat melemah sekitar 84 poin atau turun 0,48 persen dibandingkan posisi perdagangan sebelumnya.
Tekanan terhadap rupiah terjadi di tengah sentimen global yang masih belum kondusif dan penguatan dolar AS di pasar internasional.
Pelemahan rupiah kali ini juga sejalan dengan mayoritas mata uang di kawasan Asia yang sama-sama bergerak di zona merah.
Baca Juga: Harga Emas Antam dan Buyback Kompak Turun Jelang Akhir Pekan
Won Korea Selatan menjadi salah satu mata uang dengan penurunan terdalam setelah melemah sekitar 0,50 persen terhadap dolar AS.
Selain itu, peso Filipina turut terkoreksi sekitar 0,13 persen, baht Thailand melemah 0,28 persen, dan ringgit Malaysia turun sekitar 0,39 persen.
Tekanan juga dialami mata uang utama Asia lainnya.
Yuan China tercatat melemah sekitar 0,14 persen, yen Jepang turun 0,11 persen, sementara dolar Singapura terdepresiasi sekitar 0,15 persen terhadap dolar AS.
Baca Juga: Harapan Baru Pasien HIV/AIDS, Prof UNAIR Kembangkan Terapi Alami dari Teh Hijau
Di sisi lain, dolar Hong Kong ikut bergerak melemah sekitar 0,01 persen dan rupee India turun sekitar 0,06 persen pada perdagangan pagi ini.
Tak hanya di Asia, pelemahan juga terjadi pada mata uang negara-negara maju.
Poundsterling Inggris tercatat turun sekitar 0,28 persen, sementara dolar Australia melemah cukup dalam hingga 0,47 persen.
Euro Eropa juga bergerak di zona merah dengan penurunan sekitar 0,19 persen.
Sementara itu, franc Swiss melemah sekitar 0,23 persen dan dolar Kanada ikut terkoreksi sekitar 0,16 persen terhadap dolar AS.
Kondisi ini menunjukkan tekanan dolar AS masih cukup kuat di pasar global.
Baca Juga: Dorong Pertumbuhan Ekonomi, Pemerintah Siapkan Tambahan Anggaran Rp1 Triliun untuk UMKM dan Ekraf
Ketidakpastian ekonomi dunia, dinamika geopolitik internasional, hingga pergerakan harga energi global masih menjadi faktor utama yang memengaruhi pasar keuangan dan nilai tukar mata uang berbagai negara.
Pelaku pasar kini masih mencermati perkembangan ekonomi global serta langkah kebijakan bank sentral dunia yang dinilai akan sangat menentukan arah pergerakan mata uang dalam beberapa waktu ke depan. (iza/han)
Editor : Hany Akasah