RADAR SURABAYA BISNIS - Pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) di pasar Non-Deliverable Forward (NDF) atau pasar offshore terpantau cukup defensif pada perdagangan Kamis (14/5).
Meski masih bertahan di level Rp 17.500-an per dolar AS, rupiah mulai menunjukkan tenaga penguatan secara terbatas.
Melansir data dari Bloomberg, di pasar luar negeri, rupiah dibuka stagnan di posisi Rp 17.513 per dolar AS.
Namun, hingga pukul 08.30 WIB, mata uang rupiah tercatat menguat tipis sekitar 0,07 persen ke level Rp 17.506 per dolar AS.
Baca Juga: Dukung Ekonomi Rakyat: Kereta Petani dan Pedagang Layani 17 Ribu Penumpang, Pangkas Biaya Logistik
Penguatan terbatas tersebut terjadi di tengah pelemahan indeks dolar AS yang turun sekitar 0,06 persen ke posisi 98,46 dari sebelumnya 98,52.
Melemahnya indeks dolar memberikan ruang bagi sejumlah mata uang Asia untuk bergerak menguat, termasuk rupiah.
Pergerakan mata uang di kawasan Asia pada perdagangan hari ini terlihat bervariasi.
Ringgit Malaysia menjadi salah satu mata uang dengan penguatan terbesar setelah naik sekitar 0,1 persen.
Kemudian disusul yuan offshore yang menguat 0,07 persen dan baht Thailand yang naik sekitar 0,06 persen.
Selain itu, dolar Taiwan, dolar Singapura, dan dolar Hong Kong juga bergerak di zona hijau dengan penguatan terbatas masing-masing sekitar 0,03 persen dan 0,02 persen terhadap dolar AS.
Di sisi lain, beberapa mata uang Asia masih mengalami tekanan.
Won Korea Selatan tercatat melemah sekitar 0,11 persen, kemudian peso Filipina turun 0,08 persen, sementara yen Jepang terkoreksi tipis sekitar 0,01 persen.
Meski pasar spot domestik tidak beroperasi hari ini karena libur nasional dan cuti bersama, pergerakan rupiah di pasar offshore tetap menjadi perhatian pelaku pasar.
Aktivitas di pasar NDF kerap digunakan sebagai indikator sentimen investor terhadap pergerakan rupiah ketika pasar domestik tutup.
Baca Juga: Harga Sembako Surabaya, Gresik, Sidoarjo Kamis 14 Mei 2026, Cabai Kompak Turun
Penguatan terbatas yang terjadi pada rupiah di pasar offshore dinilai mencerminkan mulai meredanya tekanan terhadap mata uang rupiah setelah sebelumnya sempat menyentuh level pelemahan terdalam sepanjang sejarah.
Selain itu, pelaku pasar juga menilai adanya kemungkinan intervensi dari Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah ketidakpastian global yang masih berlangsung.
Sentimen global, terutama perkembangan konflik geopolitik di Timur Tengah, arah pergerakan dolar AS, serta kondisi harga energi dunia, masih menjadi faktor utama yang memengaruhi pergerakan rupiah dalam jangka pendek. (iza/han)
Editor : Hany Akasah