Industri & Perdagangan Infrastruktur Otomotif Perbankan & Keuangan Person of The Year Properti Transportasi & Logistik Wisata & Kuliner

Rupiah Tembus Rp17.530 per Dolar AS, Akhirnya Bank Indonesia Intervensi

Hany Akasah • Rabu, 13 Mei 2026 | 16:25 WIB
Nilai tukar rupiah kembali tertekan hingga menyentuh level Rp17.530 per dolar Amerika Serikat (AS)
Nilai tukar rupiah kembali tertekan hingga menyentuh level Rp17.530 per dolar Amerika Serikat (AS)

radarsurabayabisnis.id - Nilai tukar rupiah kembali tertekan hingga menyentuh level Rp17.530 per dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Rabu (13/5/2026). Kondisi tersebut membuat Bank Indonesia memperkuat intervensi di pasar valuta asing demi menjaga stabilitas rupiah di tengah gejolak global.

Bank sentral memastikan akan terus melakukan strategi smart intervention melalui pasar spot, Domestic Non Deliverable Forward (DNDF), hingga Non Deliverable Forward (NDF) di pasar internasional.

Direktur Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso mengatakan, BI kini siaga penuh di berbagai zona waktu untuk mengantisipasi tekanan terhadap rupiah.

Baca Juga: Rupiah Diproyeksi Melemah di Tengah Memanasnya Konflik Geopolitik AS-Iran

“Ketika pasar Jakarta tutup, kami tetap standby di pasar Eropa dan Amerika untuk memastikan pergerakan rupiah tetap stabil,” ujarnya di Jakarta, Rabu.

Menurut Denny, tekanan terhadap rupiah dipengaruhi kombinasi faktor global dan domestik. Dari sisi eksternal, konflik di Timur Tengah memicu lonjakan harga minyak dunia hingga sekitar 40 persen sejak akhir Februari 2026. Situasi tersebut memperburuk sentimen investor terhadap aset negara berkembang, termasuk Indonesia.

Di sisi lain, kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS juga mendorong penguatan dolar Amerika Serikat. Yield US Treasury tenor 10 tahun kini mendekati 4,5 persen, naik dari kisaran 4 persen pada akhir Februari 2026.

rBaca Juga: Usai Sentuh Rekor Terlemah Sepanjang Sejarah, Rupiah Menguat Tipis di Awal Perdagangan

Penguatan dolar tersebut berdampak pada pelemahan berbagai mata uang Asia, mulai dari peso Filipina, baht Thailand, hingga won Korea Selatan.

“Fenomena ini tidak hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga dialami mata uang negara lain,” kata Denny.

Sementara dari dalam negeri, meningkatnya permintaan dolar AS ikut menambah tekanan terhadap rupiah. Kebutuhan valuta asing meningkat seiring periode repatriasi dividen perusahaan, pembayaran utang luar negeri, hingga kebutuhan musiman seperti ibadah haji.

Untuk menghadapi situasi tersebut, BI memperkuat tujuh langkah strategis guna menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Otoritas moneter juga menekankan pentingnya sinergi kebijakan dengan pemerintah dan lembaga terkait agar gejolak pasar tetap terkendali.

Meski tekanan masih berlangsung, Bank Indonesia tetap optimistis terhadap prospek rupiah ke depan. Fundamental ekonomi Indonesia dinilai masih solid dan menjadi penopang utama stabilitas di tengah ketidakpastian ekonomi global.

“Dengan fundamental yang kuat dan sinergi kebijakan, kami meyakini rupiah akan kembali stabil dan cenderung menguat,” ujar Denny.

Editor : Hany Akasah
#valuta #bi #bank indonesia #bi rate