Industri & Perdagangan Infrastruktur Otomotif Perbankan & Keuangan Person of The Year Properti Transportasi & Logistik Wisata & Kuliner

OJK Perkuat Literasi Keuangan di Jawa Timur, Ingatkan Bahaya Penipuan Digital dan Kredit Macet

Hany Akasah • Rabu, 13 Mei 2026 | 13:23 WIB
CERDAS KEUANGAN : OJK Jatim mencatat angka kerugian yang fantastis, di mana Surabaya, Sidoarjo, dan Gresik menjadi wilayah dengan laporan tertinggi. (NOVIA/ RADAR SURABAYA BISNIS)
CERDAS KEUANGAN : OJK Jatim mencatat angka kerugian yang fantastis, di mana Surabaya, Sidoarjo, dan Gresik menjadi wilayah dengan laporan tertinggi. (NOVIA/ RADAR SURABAYA BISNIS)

 RADAR SURABAYA BISNIS - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Jawa Timur terus menggencarkan edukasi mengenai kesehatan keuangan digital guna membentengi masyarakat dari ancaman penipuan yang kian marak.

Salah satu fokus utama adalah menekan kesenjangan antara tingkat inklusi keuangan yang mencapai 80,51% dengan tingkat literasi yang masih rendah.

Berdasarkan data laporan IASC Provinsi Jawa Timur periode November 2024 hingga Desember 2025, total kerugian yang dilaporkan masyarakat di wilayah Jawa Timur menembus angka Rp1,04 triliun dengan 57.203 laporan.

Kota Surabaya mencatatkan kerugian tertinggi sebesar Rp331,3 miliar, disusul Kabupaten Sidoarjo sebesar Rp133,7 miliar, dan Kabupaten Gresik sebesar Rp180,8 miliar.

Baca Juga: MinyaKita Langka di Jatim, Ombudsman Temukan Harga Tembus Rp18 Ribu

"Masyarakat harus paham bahwa secara mikronya, tingkat kesehatan lembaga jasa keuangan itu ada dalam pengawasan OJK. Penting bagi kita untuk cerdas keuangan agar tidak hanya memiliki akses, tapi juga paham hak dan kewajiban guna mencapai kesejahteraan finansial," ujar Indrawan Nugroho Utomo dalam acara kuliah umum di Universitas Muhammadiyah Gresik, Rabu (13/05)

Indrawan Nugroho Utomo selaku Asisten Direktur Divisi Pengawasan Perilaku PUJK, Edukasi, dan Perlindungan Konsumen OJK Jatim menekankan pentingnya pemahaman mengenai risiko produk jasa keuangan sebelum menggunakannya.

Ia menyoroti fenomena gaya hidup generasi muda yang gemar menggunakan layanan Buy Now Pay Later (BNPL) namun sering mengabaikan kewajiban pembayaran.

Kegagalan dalam membayar tagihan ini berisiko memperburuk catatan skor kredit di Sistem Layanan Informasi Keuangan (SLIK). Hal tersebut tidak hanya menyulitkan pengajuan kredit di masa depan, seperti KPR, tetapi juga mulai menjadi pertimbangan serius dalam proses seleksi karyawan di berbagai perusahaan.

Baca Juga: HUT ke-733 Surabaya, Tarif Parkir Digital Hanya Rp 733 di Puluhan Titik

"Hati-hati dengan penggunaan paylater. Jika tidak dibayar sesuai ketentuan, datanya akan tercatat buruk di SLIK. Ini akan menyulitkan di masa depan anda, bahkan untuk mencari kerja pun sekarang banyak perusahaan yang mengecek skor kredit sebagai syarat kontrak kerja". Jelas Indrawan

OJK juga memperingatkan masyarakat mengenai bahaya scamming dan perilaku konsumtif yang dipicu oleh media sosial. Generasi muda diingatkan untuk tidak mudah percaya pada klaim influencer tanpa verifikasi, mengingat hanya 28% dari mereka yang melakukan pengecekan ulang informasi.

Sebagai langkah preventif, OJK meluncurkan gerakan GENCARKAN (Gerakan Nasional Cerdas Keuangan) dan menetapkan periode Mei hingga Agustus sebagai Bulan Literasi Keuangan. Masyarakat diimbau untuk proaktif mencari informasi melalui kanal resmi seperti akun Instagram OJK jatim atau situs web Sikapi Uangmu. (nov/han)

Editor : Hany Akasah
#SLIK #ojk #Gen Z #literasi keuangan #pinjol