Industri & Perdagangan Infrastruktur Otomotif Perbankan & Keuangan Person of The Year Properti Transportasi & Logistik Wisata & Kuliner

Rupiah Kembali Melemah di Tengah Ketegangan Geopolitik Timur Tengah

Hany Akasah • Senin, 11 Mei 2026 | 09:46 WIB
ILUSTRASI: Mata uang rupiah yang kembali melemah pada perdagangan Senin (11/5)
ILUSTRASI: Mata uang rupiah yang kembali melemah pada perdagangan Senin (11/5)

RADAR SURABAYA BISNIS - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali bergerak melemah pada perdagangan Senin (11/5).

Tekanan terhadap mata uang rupiah masih dipengaruhi penguatan dolar AS serta meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap situasi geopolitik di kawasan Timur Tengah.

Berdasarkan data Bloomberg pada pukul 09.05 WIB di pasar spot exchange, rupiah dibuka melemah 6 poin atau sekitar 0,03 persen ke level Rp 17.388 per dolar AS.

Pada saat yang sama, indeks dolar AS tercatat menguat sekitar 0,17 persen ke posisi 98,963.

Penguatan dolar tersebut membuat sejumlah mata uang emerging market, termasuk rupiah, kembali berada di bawah tekanan.

Baca Juga: Awal Pekan Melemah, Harga Emas Antam Turun dari Perdagangan Sebelumnya

Sebelumnya, pada perdagangan Jumat (9/5), rupiah juga ditutup melemah 49 poin terhadap dolar AS.

Bahkan selama sesi perdagangan berlangsung, rupiah sempat menyentuh level Rp 17.382 per dolar AS sebelum akhirnya ditutup di zona merah.

Pergerakan dolar AS di pasar global turut menunjukkan penguatan terhadap sejumlah mata uang utama dunia.

Dolar AS tercatat naik sekitar 0,2 persen terhadap yen Jepang ke level 156,88 yen. Sementara itu, euro justru melemah sekitar 0,2 persen ke posisi US$ 1,1760.

Baca Juga: BPS Buka Lowongan Mitra Statistik Sensus Ekonomi 2026, Simak Syarat Lengkap dan Cara Daftarnya

Tekanan terhadap rupiah saat ini masih dipicu ketidakpastian geopolitik global, terutama konflik yang melibatkan Amerika Serikat dan Iran di kawasan Timur Tengah.

Situasi tersebut mendorong investor global cenderung mengalihkan aset mereka ke instrumen yang dianggap lebih aman, termasuk dolar AS.

Ketegangan geopolitik yang belum mereda juga berdampak pada pasar energi dan sentimen pasar keuangan internasional.

Kondisi ini membuat mata uang negara berkembang bergerak lebih volatil dalam beberapa waktu terakhir.

Baca Juga: Berapa Saldo Ideal di Rekening? Pakar Ungkap Risiko Tersembunyi Timbun Uang di Rekening Tabungan

Meski begitu, pelaku pasar masih menantikan langkah lanjutan otoritas moneter dalam menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah tekanan global yang masih tinggi.

Analis memperkirakan pergerakan rupiah masih akan dipengaruhi dinamika dolar AS, perkembangan konflik geopolitik, serta sentimen pasar global dalam jangka pendek. (iza/han)

Editor : Hany Akasah
#rupiah #pasar #as #dolar #uang