radarsurabayabisnis.id - Kinerja Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) hingga 31 Maret 2026 mencatat defisit sebesar Rp240,1 triliun. Nilai tersebut setara 0,93 persen terhadap produk domestik bruto (PDB), seiring lonjakan belanja negara yang tumbuh signifikan pada kuartal pertama tahun ini.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan, pendapatan negara hingga akhir Maret 2026 mencapai Rp574,9 triliun, sedangkan belanja negara telah terealisasi sebesar Rp815 triliun.
Baca Juga: Menkeu Purbaya Ungkap Sumber Gaji 30 Ribu Manajer Kopdes Merah Putih, Ternyata Dari Sini
“Defisit mencapai Rp240,1 triliun atau 0,93 persen dari PDB,” ujar Purbaya dalam konferensi pers APBN KiTa Edisi April 2026 di Kementerian Keuangan, Jakarta, Selasa (5/5).
Meski mengalami defisit, pemerintah memastikan kondisi fiskal tetap berada dalam batas aman dan terkendali. Pemerintah juga menilai kenaikan belanja negara menjadi bagian dari strategi percepatan distribusi anggaran sejak awal tahun.
Pendapatan Negara Tumbuh 10,5 Persen
Kementerian Keuangan mencatat realisasi pendapatan negara mencapai 18,2 persen dari target APBN 2026 atau tumbuh 10,5 persen secara tahunan (year-on-year/yoy).
Dari sisi perpajakan, penerimaan tercatat sebesar Rp462,7 triliun atau 17,2 persen dari target APBN. Angka tersebut tumbuh 14,2 persen dibanding periode yang sama tahun lalu.
Rinciannya, penerimaan pajak mencapai Rp394,8 triliun atau 16,7 persen dari target APBN, dengan pertumbuhan tinggi sebesar 20,7 persen (yoy). Sementara penerimaan kepabeanan dan cukai mencapai Rp67,9 triliun atau 20,2 persen dari target, namun mengalami kontraksi 12,6 persen secara tahunan.
Baca Juga: Harga Sembako Surabaya, Gresik, Sidoarjo Selasa 5 Mei 2026, Cabai Rawit Kembali Naik
Menkeu Purbaya menilai tren penerimaan negara, khususnya dari pajak, mulai menunjukkan perbaikan.
“Kinerja penerimaan pajak maupun kepabeanan dan cukai terus membaik. Kami akan terus memacu penerimaan dari kedua pos tersebut,” katanya.
Sementara itu, Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) tercatat sebesar Rp112,1 triliun atau 24,4 persen dari target APBN. Meski mengalami normalisasi dibanding tahun sebelumnya, kontribusi PNBP dinilai masih cukup solid menopang pendapatan negara.
Belanja Negara Melonjak 31,4 Persen
Di sisi lain, realisasi belanja negara hingga akhir Maret 2026 mencapai Rp815 triliun atau 21,2 persen dari target APBN. Angka tersebut melonjak 31,4 persen dibanding periode yang sama tahun lalu.
Kenaikan tajam terutama terjadi pada belanja pemerintah pusat yang mencapai Rp610,3 triliun atau tumbuh 47,7 persen secara tahunan.
Belanja kementerian/lembaga (K/L) tercatat sebesar Rp281,2 triliun atau naik 43,3 persen, sedangkan belanja non-K/L mencapai Rp329,1 triliun atau tumbuh 51,5 persen.
“Ini lebih tinggi dibandingkan tahun lalu. Ini yang saya sebut pemerataan belanja sepanjang tahun,” ujar Purbaya.
Adapun transfer ke daerah (TKD) terealisasi Rp204,8 triliun atau 29,5 persen dari target APBN. Namun, angka tersebut mengalami kontraksi tipis sebesar 1,1 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Dengan perkembangan tersebut, keseimbangan primer APBN juga tercatat defisit sebesar Rp95,8 triliun.
Pemerintah menegaskan pengelolaan APBN 2026 tetap dilakukan secara hati-hati guna menjaga stabilitas fiskal nasional sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi di tengah tantangan global yang masih dinamis.
Editor : Hany Akasah