RADAR SURABAYA BISNIS - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali menunjukkan pelemahan pada perdagangan Selasa (5/5).
Tekanan terhadap mata uang domestik ini masih berlanjut, mencerminkan kondisi pasar yang belum sepenuhnya stabil.
Mengacu pada data Trading Economics hingga pukul 09.10 WIB, rupiah tercatat berada di level Rp 17.407 per dolar AS.
Posisi ini lebih tinggi dibandingkan dengan penutupan sebelumnya, yang menandakan terjadinya depresiasi nilai tukar rupiah.
Baca Juga: 130 SMK di Jawa Timur Kini Sudah Bisa Produksi Kendaraan Listrik
Pelemahan ini menjadi sorotan karena memperpanjang tren negatif yang telah berlangsung dalam beberapa hari terakhir.
Bahkan, pergerakan saat ini menunjukkan salah satu tekanan terdalam dalam periode terkini, sehingga meningkatkan kewaspadaan pelaku pasar.
Perubahan nilai tukar rupiah tidak hanya berdampak pada pasar keuangan, tetapi juga berpotensi memengaruhi sektor riil.
Melemahnya rupiah dapat meningkatkan biaya impor, yang pada akhirnya berimbas pada harga barang dan kebutuhan di dalam negeri.
Baca Juga: Emas Antam Ambles di Tengah Konflik Timur Tengah, Buyback Ikut Turun
Selain itu, kondisi ini juga mencerminkan penguatan dolar AS di pasar global. Ketika mata uang AS menguat, mata uang negara berkembang seperti rupiah cenderung mengalami tekanan.
Data terbaru ini mengindikasikan bahwa rupiah masih berada dalam tren pelemahan.
Jika tidak ada sentimen positif yang mampu menahan laju depresiasi, tekanan terhadap nilai tukar berpotensi berlanjut dalam waktu dekat.
Dengan kondisi tersebut, pelaku pasar diharapkan tetap waspada dan terus memantau perkembangan global maupun domestik yang dapat memengaruhi pergerakan nilai tukar rupiah ke depan. (iza/han)
Editor : Hany Akasah