RADAR SURABAYA BISNIS - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali menunjukkan pelemahan pada pembukaan perdagangan awal pekan, Senin (4/5).
Meskipun penurunannya relatif tipis, tren ini melanjutkan tekanan yang sudah terjadi pada perdagangan sebelumnya.
Mengacu pada data Bloomberg di pasar spot exchange hingga pukul 09.10 WIB, rupiah tercatat melemah sebesar 4 poin atau sekitar 0,02 persen ke posisi Rp 17.341 per dolar AS.
Pergerakan ini menandakan bahwa mata uang rupiah masih berada dalam tekanan meski tidak terlalu signifikan.
Baca Juga: Harga Sembako Surabaya, Gresik, Sidoarjo Senin 4 Mei 2026, Cabai Rawit Melonjak Tajam
Sebelumnya, pada perdagangan terakhir pekan lalu, rupiah juga ditutup di zona negatif.
Mata uang domestik tersebut melemah 27 poin, bahkan sempat menyentuh pelemahan lebih dalam hingga 60 poin sebelum akhirnya ditutup di kisaran Rp 17.353 per dolar AS.
Di sisi global, pergerakan mata uang utama dunia cenderung bervariasi.
Dolar Australia tercatat mengalami penguatan tipis sekitar 0,1 persen ke level US$ 0,7211. Sementara itu, mata uang euro juga naik dengan persentase yang sama ke posisi US$ 1,1730 terhadap dolar AS.
Baca Juga: Harga Emas Antam Turun Tipis, Buyback Ikut Melemah Hari Ini
Poundsterling Inggris turut mencatat kenaikan sekitar 0,1 persen dan berada di level US$ 1,3586.
Adapun yen Jepang terlihat relatif stabil pada awal perdagangan di kawasan Asia. Mata uang Negeri Sakura tersebut menguat tipis sekitar 0,1 persen ke posisi 156,885 per dolar AS.
Penguatan ini terjadi setelah sebelumnya yen mendapat dorongan dari intervensi otoritas Jepang dalam upaya menjaga stabilitas mata uangnya.
Dalam sebulan terakhir, yen bahkan tercatat menguat sekitar 1,4 persen.
Pergerakan rupiah yang masih cenderung melemah menunjukkan bahwa tekanan eksternal masih menjadi faktor dominan.
Baca Juga: Pembangunan Sekolah Rakyat di Jatim Terbesar Nasional, Begini Progresnya
Dinamika global, termasuk arah kebijakan moneter negara maju serta kondisi pasar keuangan internasional, terus memengaruhi pergerakan mata uang di emerging markets, termasuk Indonesia.
Dengan kondisi ini, pelaku pasar diperkirakan akan tetap berhati-hati dalam mengambil keputusan, sembari menunggu perkembangan sentimen global yang dapat memberikan arah baru bagi pergerakan rupiah. (iza/han)
Editor : Hany Akasah