Industri & Perdagangan Infrastruktur Otomotif Perbankan & Keuangan Person of The Year Properti Transportasi & Logistik Wisata & Kuliner

Rupiah Tertinggal Saat Mata Uang Asia Menguat, Terpuruk Rp17.345 per Dolar AS

Hany Akasah • Jumat, 1 Mei 2026 | 17:17 WIB
ILUSTRASI: Rupiah turun 19 poin atau 0,11 persen dibandingkan perdagangan sebelumnya
ILUSTRASI: Rupiah turun 19 poin atau 0,11 persen dibandingkan perdagangan sebelumnya

radarsurabayabisnis.id - Nilai tukar rupiah kembali tertekan jelang libur panjang. Pada penutupan perdagangan Kamis (30/4), mata uang Garuda ditutup melemah ke level Rp17.345 per dolar Amerika Serikat (AS).

Rupiah turun 19 poin atau 0,11 persen dibandingkan perdagangan sebelumnya. Pelemahan ini terjadi di tengah mayoritas mata uang Asia yang justru bergerak menguat terhadap dolar AS.

Rupiah Tertinggal Saat Mata Uang Asia Menguat

Berdasarkan data perdagangan, yuan China menguat 0,11 persen terhadap dolar AS. Peso Filipina naik 0,18 persen, disusul dolar Singapura yang terapresiasi 0,19 persen.

Penguatan terbesar terjadi pada yen Jepang yang melonjak hingga 0,52 persen. Won Korea Selatan juga naik 0,54 persen, sementara dolar Hong Kong menguat tipis 0,02 persen.

Baca Juga: Rupiah Masih Melemah di Tengah Pergerakan Variatif Mata Uang Global

Di kawasan Asia Tenggara, hanya ringgit Malaysia yang bernasib serupa dengan rupiah. Bahkan, mata uang Malaysia melemah lebih dalam hingga 0,51 persen terhadap dolar AS.

Sementara itu, mata uang negara maju kompak berada di zona hijau. Euro Eropa naik 0,02 persen, poundsterling Inggris menguat 0,09 persen, dan dolar Australia terapresiasi 0,21 persen.

Dolar Kanada juga naik 0,10 persen, sedangkan franc Swiss menguat 0,23 persen.

Harga Minyak dan Defisit Anggaran Tekan Rupiah

Analis mata uang DOO Financial Futures, Lukman Leong, menilai pelemahan rupiah dipicu kombinasi sentimen domestik dan global yang masih membebani pasar.

“Rupiah tertekan oleh sentimen risk off domestik. Kekhawatiran akan harga minyak dunia yang terus melambung membuat defisit anggaran kian membayangi,” ujarnya.

Baca Juga: Prabowo Tekan Bunga KUR Jadi 5 Persen, Targetkan Kesejahteraan Buruh dan UMKM

Menurut Lukman, investor masih menunggu langkah konkret pemerintah dalam mengendalikan tekanan fiskal di tengah kenaikan harga energi global.

Ia juga menyoroti langkah Bank Indonesia yang dinilai masih mengandalkan intervensi pasar untuk menjaga stabilitas rupiah.

“Bank Indonesia masih sekadar mengandalkan intervensi,” tegasnya.

Konflik Timur Tengah dan Dolar AS Jadi Ancaman

Dari faktor eksternal, pasar keuangan global masih dibayangi eskalasi konflik di Timur Tengah yang memicu ketidakpastian tinggi.

Selain itu, pergerakan dolar AS dan harga minyak mentah dunia yang fluktuatif juga menjadi tekanan tambahan bagi mata uang emerging market termasuk rupiah.

“Semua masih tidak menentu,” tandas Lukman.

Kondisi tersebut membuat pergerakan rupiah menjelang libur panjang justru dipenuhi tekanan, di saat mayoritas mata uang global mulai menunjukkan penguatan terhadap dolar AS.

Editor : Hany Akasah
#rupiah #kurs #Rupiah hari ini #mata uang