RADAR SURABAYA BISNIS - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali mengalami tekanan signifikan pada perdagangan Kamis (30/4), yang merupakan sesi terakhir sebelum pasar domestik libur memperingati Hari Buruh.
Sejak awal perdagangan, mata uang Garuda sudah berada di jalur pelemahan dan terus tertekan hingga menyentuh level terendah sepanjang sejarah.
Kondisi ini dipengaruhi oleh kombinasi sentimen eksternal dan domestik yang masih membayangi pasar keuangan.
Berdasarkan data Bloomberg, rupiah pada pembukaan perdagangan tercatat melemah sekitar 0,36 persen ke posisi Rp 17.353 per dolar AS.
Baca Juga: Harga Sembako Surabaya, Gresik, Sidoarjo 30 April 2026, Minyak Goreng dan Garam Naik
Tekanan tersebut berlanjut, hingga pada pukul 09.05 WIB nilai tukar kembali terkoreksi lebih dalam menjadi Rp 17.366 per dolar AS atau melemah sekitar 0,4 persen.
Menariknya, pelemahan rupiah terjadi meskipun indeks dolar AS justru menunjukkan sedikit penurunan. Indeks dolar terhadap enam mata uang utama dunia tercatat melemah sekitar 0,11 persen ke level 98,85.
Hal ini menandakan bahwa tekanan terhadap rupiah tidak semata-mata berasal dari penguatan dolar, melainkan juga dipicu oleh faktor lain.
Salah satu faktor utama yang memengaruhi pergerakan pasar adalah lonjakan harga minyak dunia.
Baca Juga: Emas Antam Lanjutkan Penurunan, Buyback Makin Anjlok Hari Ini 30 April 2026
Kenaikan harga energi tersebut memberikan tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, karena meningkatkan kekhawatiran terhadap inflasi dan neraca perdagangan.
Di kawasan Asia, pergerakan mata uang terhadap dolar AS terlihat bervariasi.
Sebagian mata uang mengalami penguatan, sementara lainnya justru melemah, mencerminkan ketidakpastian yang masih tinggi di pasar global.
Kondisi ini membuat pelaku pasar cenderung bersikap lebih hati-hati, terutama menjelang libur panjang di dalam negeri.
Baca Juga: Rokok Ilegal di Sidoarjo Makin Marak, 267 Bungkus Disita Operasi Gabungan
Penutupan pasar domestik pada peringatan Hari Buruh juga turut memengaruhi likuiditas dan aktivitas perdagangan, sehingga pergerakan rupiah menjadi lebih sensitif terhadap sentimen global.
Dengan tekanan yang masih berlangsung, pergerakan rupiah diperkirakan tetap fluktuatif dalam jangka pendek.
Investor akan terus mencermati perkembangan harga komoditas, arah kebijakan global, serta kondisi geopolitik yang dapat memengaruhi stabilitas nilai tukar. (iza/han)
Editor : Hany Akasah