Industri & Perdagangan Infrastruktur Otomotif Perbankan & Keuangan Person of The Year Properti Transportasi & Logistik Wisata & Kuliner

Rupiah Terseret Tekanan Global, Melemah di Awal Perdagangan

Hany Akasah • Selasa, 28 April 2026 | 13:35 WIB
ILUSTRASI: Mata uang rupiah yang kembali melemah pada perdagangan Selasa (28/4)
ILUSTRASI: Mata uang rupiah yang kembali melemah pada perdagangan Selasa (28/4)

RADAR SURABAYA BISNIS - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) memulai perdagangan Selasa (28/4) di zona merah.

Tekanan terhadap mata uang domestik terlihat sejak awal sesi, seiring dengan sentimen global yang masih membayangi pasar keuangan.

Mengacu pada data Bloomberg, rupiah tercatat melemah sekitar 0,12 persen ke posisi Rp 17.215 per dolar AS dibandingkan dengan penutupan hari sebelumnya.

Tak berselang lama, tekanan terhadap rupiah semakin dalam, hingga pada pukul 09.05 WIB nilai tukar kembali terdepresiasi menjadi Rp 17.235 per dolar AS atau melemah sekitar 0,23 persen.

Baca Juga: Jejak Pabrik Becak Tong Soen di Jalan Tepekong, Pernah Berjaya hingga Kuasai Jatim

Pelemahan ini terjadi di tengah penguatan tipis indeks dolar AS yang naik sekitar 0,02 persen ke level 98,52.

Selain itu, tingginya harga minyak dunia juga menjadi faktor yang membebani pergerakan mata uang emerging markets, termasuk rupiah.

Tercatat, harga minyak mentah Brent masih bertahan di kisaran US$108 per barel, mencerminkan tekanan dari sisi energi global.

Kondisi tersebut membuat mayoritas mata uang di kawasan Asia bergerak melemah.

Baca Juga: Tak Lagi Jual Hewan Kurban, RPH Surabaya Fokus Jasa Pemotongan di Idul Adha 2026

Baht Thailand mencatat penurunan paling dalam sekitar 0,27 persen, diikuti dolar Taiwan sebesar 0,12 persen.

Sementara itu, peso Filipina terkoreksi 0,1 persen, yen Jepang melemah 0,08 persen, dan dolar Singapura turun 0,05 persen.

Selain itu, yuan offshore dan yuan China juga mengalami pelemahan masing-masing sekitar 0,04 persen terhadap dolar AS.

Di tengah tekanan tersebut, hanya segelintir mata uang yang mampu bertahan di zona hijau, seperti ringgit Malaysia yang menguat tipis 0,06 persen serta dolar Hong Kong yang naik sekitar 0,01 persen.

Dari dalam negeri, tekanan tambahan juga datang dari pasar saham.

Arus keluar dana asing (capital outflow) tercatat cukup besar pada perdagangan sebelumnya. Investor asing membukukan aksi jual bersih hingga mencapai sekitar US$118,5 juta pada Senin (27/4).

Baca Juga: Stok Sapi dan Kambing Melimpah, Khofifah Pastikan Jatim Surplus Hewan Kurban

Angka ini menjadi yang terbesar dalam sebulan terakhir sekaligus menandai tren aksi jual yang telah berlangsung selama empat hari berturut-turut.

Fenomena ini mencerminkan sikap investor global yang semakin berhati-hati dalam menempatkan dana, terutama di tengah ketidakpastian eksternal yang masih tinggi.

Faktor geopolitik serta fluktuasi harga energi menjadi perhatian utama yang memengaruhi arah pergerakan pasar keuangan.

Dengan kondisi tersebut, pergerakan rupiah diperkirakan masih akan menghadapi tekanan dalam jangka pendek.

Pelaku pasar pun cenderung menunggu perkembangan lebih lanjut dari faktor global sebelum mengambil keputusan investasi yang lebih agresif. (iza/han)

Editor : Hany Akasah
#rupiah #dolar #uang #investor #global