RADAR SURABAYA BISNIS - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali mengalami tekanan pada pembukaan perdagangan awal pekan, Senin (27/4).
Pelemahan ini melanjutkan tren depresiasi yang terjadi pada pekan sebelumnya, di mana rupiah sempat menyentuh level terendah sepanjang sejarah.
Melansir dari Bloomberg pada perdagangan pagi, rupiah tercatat melemah sekitar 0,03 persen ke posisi Rp 17.210 per dolar AS.
Tekanan terhadap mata uang domestik berlanjut, hingga pada pukul 09.25 WIB rupiah kembali turun lebih dalam sekitar 0,1 persen ke level Rp 17.223 per dolar AS.
Baca Juga: Harga Sembako Surabaya, Gresik, Sidoarjo Senin 27 April 2026, Telur Kompak Turun
Pergerakan ini terjadi di tengah meningkatnya ketidakpastian global, terutama terkait kondisi geopolitik yang belum menunjukkan tanda mereda.
Selain itu, lonjakan harga minyak mentah dunia turut memberikan tekanan tambahan terhadap nilai tukar rupiah.
Di sisi lain, indeks dolar AS terhadap sejumlah mata uang utama dunia tercatat menguat cukup signifikan.
Indeks tersebut naik sekitar 0,81 persen ke posisi 99,32. Penguatan dolar ini dipicu oleh kenaikan harga minyak dunia yang terjadi setelah negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran belum mencapai kesepakatan.
Baca Juga: Harga Emas Antam Turun, Buyback Ikut Susut di Perdagangan Hari Ini
Menariknya, meskipun tekanan global meningkat, sebagian besar mata uang di kawasan Asia justru bergerak di zona hijau.
Dolar Taiwan mencatatkan penguatan terbesar sekitar 0,3 persen, diikuti ringgit Malaysia yang naik 0,29 persen serta won Korea Selatan sebesar 0,26 persen.
Selain itu, baht Thailand menguat sekitar 0,19 persen, peso Filipina naik 0,11 persen, sementara yuan offshore dan yuan China masing-masing mencatat kenaikan sekitar 0,09 persen dan 0,04 persen terhadap dolar AS.
Di tengah penguatan mayoritas mata uang Asia tersebut, rupiah justru menjadi salah satu yang mengalami pelemahan, bersama dengan dolar Hong Kong yang juga tercatat berada di zona negatif.
Kondisi ini menunjukkan bahwa tekanan terhadap rupiah tidak hanya berasal dari faktor global, tetapi juga dipengaruhi oleh sentimen pasar yang masih berhati-hati.
Pelaku pasar cenderung mencermati perkembangan geopolitik dan pergerakan harga energi sebelum mengambil keputusan investasi.
Dengan dinamika yang masih berlangsung, pergerakan rupiah diperkirakan akan tetap fluktuatif dalam jangka pendek.
Oleh karena itu, pelaku pasar diimbau untuk terus memantau perkembangan global dan domestik yang dapat memengaruhi nilai tukar. (iza/han)
Editor : Hany Akasah