RADAR SURABAYA BISNIS - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) menunjukkan penguatan tipis pada perdagangan Jumat pagi (24/4).
Mata uang rupiah tercatat naik sekitar 6 poin atau setara 0,03 persen ke level Rp 17.280 per dolar AS, dibandingkan posisi penutupan sebelumnya di Rp 17.286 per dolar AS.
Penguatan tipis ini terjadi di tengah berbagai tekanan global yang masih membayangi pasar keuangan, namun dinilai belum cukup kuat untuk mendorong apresiasi rupiah secara signifikan.
Bank Indonesia (BI) menilai bahwa posisi rupiah saat ini sebenarnya masih berada di bawah nilai yang seharusnya atau undervalued jika dibandingkan dengan fundamental ekonomi domestik.
Baca Juga: Harga Sembako Surabaya, Gresik, Sidoarjo Hari Ini, Daging Kompak Turun
Penilaian ini didasarkan pada kondisi perekonomian nasional yang dinilai tetap solid dan relatif stabil.
Gubernur BI, Perry Warjiyo menegaskan bahwa secara fundamental, nilai tukar rupiah seharusnya berada pada level yang lebih kuat.
Hal ini didukung oleh kinerja ekonomi domestik yang masih terjaga, termasuk stabilitas sektor keuangan serta efektivitas kebijakan moneter yang diterapkan oleh bank sentral.
“Kami tegaskan bahwa nilai tukar rupiah sekarang ini telah undervalued dibandingkan dengan fundamental,” ujarnya dalam konferensi pers yang digelar pada Rabu (22/4/2026).
Baca Juga: Genjot Ketahanan Pangan, Pemprov Jatim Kejar LP2B 85 Persen Demi Lindungi Lahan Pertanian
Ia juga menambahkan bahwa ketahanan ekonomi Indonesia tetap terjaga meskipun dihadapkan pada dinamika global, termasuk ketegangan geopolitik yang masih berlangsung di kawasan Timur Tengah.
Meski demikian, tekanan terhadap rupiah masih belum sepenuhnya mereda. Konflik geopolitik, khususnya yang melibatkan Iran, memberikan dampak signifikan terhadap pasar global.
Kenaikan harga minyak dunia menjadi salah satu faktor yang memperburuk tekanan terhadap mata uang negara berkembang.
Selain itu, penguatan dolar AS serta meningkatnya imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat turut memengaruhi arus modal global.
Kondisi ini membuat investor cenderung mengalihkan dana ke aset yang dianggap lebih aman, sehingga menekan mata uang emerging markets, termasuk rupiah.
Untuk menjaga stabilitas nilai tukar, Bank Indonesia terus mengoptimalkan berbagai instrumen kebijakan.
Baca Juga: Festival Rujak Uleg 2026 Surabaya Bertema “Rujakphoria”, Ajang Wisata dan UMKM
Upaya tersebut dilakukan melalui penguatan bauran kebijakan, baik di sektor moneter, makroprudensial, maupun sistem pembayaran.
Langkah ini diharapkan mampu meredam volatilitas di pasar keuangan sekaligus menjaga kepercayaan investor terhadap perekonomian nasional.
Ke depan, pergerakan rupiah diperkirakan masih akan dipengaruhi oleh kombinasi faktor global dan domestik, sehingga pelaku pasar perlu terus mencermati perkembangan yang terjadi. (iza/han)
Editor : Hany Akasah