Industri & Perdagangan Infrastruktur Otomotif Perbankan & Keuangan Person of The Year Properti Transportasi & Logistik Wisata & Kuliner

Rupiah Ambles di Awal Perdagangan, Faktor Global dan Domestik Jadi Pemicu

Hany Akasah • Senin, 20 April 2026 | 09:59 WIB
ILUSTRASI: Mata uang Rupiah yang dibuka merosot pada pembukaan perdagangan Senin (20/4)
ILUSTRASI: Mata uang Rupiah yang dibuka merosot pada pembukaan perdagangan Senin (20/4)

RADAR SURABAYA BISNIS - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) memulai perdagangan awal pekan dengan pelemahan.

Pada Senin (20/4), rupiah dibuka di posisi Rp 17.184 per dolar AS, turun dibandingkan posisi sebelumnya.

Berdasarkan data pasar, rupiah tercatat melemah sekitar 0,27 persen pada pembukaan perdagangan.

Di saat yang sama, indeks dolar AS justru menunjukkan penguatan sekitar 0,22 persen ke level 98,31, yang turut memberikan tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

Baca Juga: Update Harga Sembako Surabaya, Gresik, Sidoarjo Senin 20 Maret, Bawang Turun

Pergerakan rupiah ini sejalan dengan mayoritas mata uang di kawasan Asia Pasifik yang juga berada di zona merah.

Yen Jepang tercatat melemah sekitar 0,17 persen, diikuti yuan China yang turun 0,04 persen. Dolar Singapura juga mengalami pelemahan sebesar 0,23 persen.

Tekanan lebih dalam terlihat pada won Korea Selatan yang melemah hingga 0,58 persen. Selain itu, dolar Hong Kong turun tipis sekitar 0,02 persen, sementara dolar Taiwan terkoreksi 0,11 persen.

Di kawasan Asia Tenggara, peso Filipina tercatat mengalami pelemahan paling dalam dengan penurunan sekitar 0,78 persen. Baht Thailand juga ikut melemah sekitar 0,47 persen terhadap dolar AS. Sementara itu, ringgit Malaysia relatif stabil tanpa perubahan signifikan.

Baca Juga: Emas Antam Melemah di Awal Pekan, Buyback Ikut Melorot

Dalam jangka waktu yang lebih panjang, kinerja rupiah juga menunjukkan tren pelemahan.

Dalam satu bulan terakhir, nilai tukar rupiah tercatat turun sekitar 1,63 persen. Sementara dalam kurun waktu satu tahun, pelemahan mencapai sekitar 1,91 persen.

Bahkan, secara historis, rupiah sempat menyentuh titik terlemah pada April 2026 dengan berada di kisaran Rp 17.210 per dolar AS.

Level tersebut menjadi salah satu catatan penting dalam pergerakan nilai tukar rupiah belakangan ini.

Pelemahan rupiah tidak hanya dipengaruhi oleh faktor global, seperti penguatan dolar AS dan dinamika ekonomi internasional, tetapi juga dipicu oleh faktor domestik.

Baca Juga: Harga Plastik Naik, Pengusaha Dilema Naikkan Harga atau Kurangi Porsi

Kombinasi kedua faktor tersebut membuat pergerakan rupiah cenderung berada di bawah tekanan.

Dengan kondisi yang masih fluktuatif, pelaku pasar diharapkan tetap mencermati perkembangan global maupun domestik yang dapat memengaruhi arah nilai tukar.

Pemantauan yang cermat dinilai penting untuk mengantisipasi potensi pergerakan lanjutan di pasar valuta asing. (iza/han)

Editor : Hany Akasah
#perdagangan #rupiah #dolar #asia #investasi