RADAR SURABAYA BISNIS - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) mencatatkan penguatan tipis pada awal perdagangan Rabu (15/4).
Mata uang rupiah dibuka di level Rp 17.126 per dolar AS, menunjukkan pergerakan positif meskipun dalam skala yang terbatas.
Berdasarkan data Doo Financial Futures hingga pukul 09.10 WIB, rupiah menguat sekitar 0,01 persen dibandingkan posisi sebelumnya.
Penguatan ini mencerminkan respons pasar terhadap dinamika global yang tengah berlangsung.
Kenaikan nilai tukar rupiah tidak terjadi secara sendiri, melainkan sejalan dengan pergerakan sejumlah mata uang di kawasan Asia.
Baht Thailand tercatat menguat sekitar 0,37 persen, diikuti peso Filipina yang naik 0,05 persen dan ringgit Malaysia yang menguat 0,18 persen.
Selain itu, won Korea Selatan juga mengalami apresiasi sebesar 0,05 persen, sementara dolar Taiwan naik 0,06 persen dan dolar Singapura menguat 0,02 persen terhadap dolar AS.
Pergerakan ini menunjukkan adanya tren penguatan mata uang regional secara bersamaan.
Baca Juga: Harga Bahan Pokok Surabaya, Gresik, Sidoarjo Fluktuatif, Daging dan Telur Turun
Penguatan rupiah dan mata uang Asia tersebut tidak terlepas dari melemahnya dolar AS di pasar global.
Tekanan terhadap dolar dipicu oleh berbagai sentimen eksternal, salah satunya penurunan harga minyak mentah dunia yang memengaruhi ekspektasi pasar terhadap kondisi ekonomi global.
Ketika dolar AS melemah, mata uang negara berkembang biasanya mendapatkan ruang untuk menguat.
Hal ini menjadi salah satu faktor yang mendorong rupiah bergerak ke zona positif pada awal perdagangan hari ini.
Meski demikian, pelaku pasar masih mencermati perkembangan global yang dapat memengaruhi arah pergerakan nilai tukar.
Baca Juga: Emas Antam Kembali Menguat, Buyback Ikut Naik di Perdagangan Hari Ini
Faktor eksternal seperti harga komoditas, kebijakan moneter global, hingga kondisi geopolitik tetap menjadi perhatian utama.
Dengan kondisi pasar yang masih dinamis, pergerakan rupiah diperkirakan akan tetap fluktuatif.
Oleh karena itu, investor disarankan untuk terus memantau perkembangan global sebelum mengambil keputusan terkait transaksi valuta asing. (iza/han)
Editor : Hany AkasahSumber : radar surabaya bisnis