RADAR SURABAYA BISNIS - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) mencatatkan penguatan tipis pada perdagangan Jumat (10/4/2026).
Pergerakan ini terjadi di tengah tekanan global yang masih membayangi, terutama akibat penguatan dolar AS serta pelemahan mayoritas mata uang di kawasan Asia.
Berdasarkan data Bloomberg pada pukul 09.06 WIB di pasar spot exchange, rupiah terapresiasi sebesar 3 poin atau sekitar 0,02 persen ke level Rp 17.087 per dolar AS.
Penguatan ini terbilang terbatas, namun menunjukkan ketahanan rupiah di tengah kondisi pasar yang kurang kondusif.
Baca Juga: Update Harga Bahan Pokok Jumat 10 April 2026 di Surabaya, Gresik, Sidoarjo
Di sisi lain, indeks dolar AS justru mengalami kenaikan sebesar 0,05 persen ke posisi 98,8.
Penguatan dolar ini biasanya memberikan tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, karena investor cenderung beralih ke aset berbasis dolar.
Pada perdagangan sebelumnya, Kamis (9/4), rupiah ditutup melemah cukup dalam, yakni turun 90 poin ke level Rp 17.092 per dolar AS.
Namun pada hari ini, rupiah berhasil berbalik arah meski dengan penguatan yang terbatas.
Baca Juga: Harga Emas Antam Naik Tipis Hari Ini, Buyback Ikut Menguat
Menariknya, penguatan rupiah terjadi saat sebagian besar mata uang Asia justru mengalami pelemahan terhadap dolar AS.
Kondisi ini menunjukkan bahwa rupiah mampu bertahan lebih baik dibandingkan beberapa mata uang regional lainnya.
Sentimen pasar saat ini masih dipengaruhi oleh perkembangan geopolitik, khususnya menjelang pembicaraan antara Amerika Serikat dan Iran.
Meskipun gencatan senjata di antara kedua negara masih berlangsung, pelaku pasar tetap bersikap hati-hati sambil menunggu hasil dari perundingan tersebut.
Ketidakpastian ini membuat pergerakan pasar cenderung fluktuatif.
Baca Juga: Prabowo Resmikan Pabrik Listrik di Magelang, Target Produksi 10.000 Bus per Tahun
Investor terus mencermati arah kebijakan dan perkembangan geopolitik yang dapat memengaruhi stabilitas global.
Dengan kondisi yang masih dinamis, pergerakan rupiah diperkirakan akan tetap bergantung pada sentimen eksternal.
Oleh karena itu, pelaku pasar diimbau untuk terus memantau perkembangan global guna mengantisipasi perubahan arah nilai tukar. (iza/han)
Editor : Hany AkasahSumber : radar surabaya bisnis