Industri & Perdagangan Infrastruktur Otomotif Perbankan & Keuangan Person of The Year Properti Transportasi & Logistik Wisata & Kuliner

Rupiah Tertekan di Level Psikologis, Ketidakpastian Global dan Konflik Timur Tengah Jadi Pemicu

Hany Akasah • Kamis, 9 April 2026 | 10:09 WIB
ILUSTRASI: Mata uang rupiah yang tertekan ke level psikologisnya pada perdagangan Kamis (9/4/2026)
ILUSTRASI: Mata uang rupiah yang tertekan ke level psikologisnya pada perdagangan Kamis (9/4/2026)

RADAR SURABAYA BISNIS - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali mengalami tekanan pada perdagangan Kamis (9/4/2026).

Pelemahan ini terjadi setelah sebelumnya rupiah sempat mencatatkan penguatan pada penutupan perdagangan sehari sebelumnya.

Berdasarkan data Bloomberg pada pukul 09.06 WIB di pasar spot exchange, rupiah tercatat melemah sebesar 26 poin atau sekitar 0,15 persen ke level Rp 17.038 per dolar AS.

Pergerakan ini menunjukkan adanya tekanan baru di pasar valuta asing yang dipicu oleh sentimen global.

Baca Juga: Harga Bahan Pokok di Surabaya, Gresik, Sidoarjo Hari Ini, Cek Rinciannya

Di saat yang sama, indeks dolar AS justru mengalami penurunan tipis sebesar 0,07 persen ke posisi 99,06.

Meski demikian, dolar AS tetap menjadi pilihan utama investor sebagai aset aman (safe haven) di tengah meningkatnya ketidakpastian global.

Sebelumnya, pada perdagangan Rabu (8/4/2026), rupiah ditutup menguat sebesar 93 poin di level Rp 17.012 per dolar AS.

Namun, penguatan tersebut tidak bertahan lama seiring munculnya kembali tekanan eksternal.

Baca Juga: Tren Berbalik, Harga Emas Antam Merosot di Awal Perdagangan

Salah satu faktor utama yang memengaruhi pergerakan rupiah adalah ketidakpastian terkait kondisi geopolitik di kawasan Timur Tengah, khususnya konflik antara AS-Israel dan Iran.

Situasi yang belum sepenuhnya stabil membuat pelaku pasar cenderung mengambil sikap hati-hati.

Selain itu, arah kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat juga menjadi perhatian pasar.

Ketidakjelasan kebijakan tersebut menambah tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

Dalam kondisi seperti ini, investor cenderung mengalihkan dana ke aset yang dianggap lebih aman.

Baca Juga: Revisi UU Perfilman, Kemenko PMK Dorong Kolaborasi Kebudayaan dan Ekonomi Kreatif

Peningkatan permintaan terhadap aset safe haven tersebut pada akhirnya memberikan tekanan tambahan terhadap nilai tukar rupiah.

Pergerakan ini menunjukkan bahwa nilai tukar rupiah masih sangat dipengaruhi oleh faktor eksternal, terutama dinamika geopolitik dan kebijakan ekonomi global. 

Pelaku pasar diimbau untuk terus memantau perkembangan global serta kebijakan ekonomi yang dapat memengaruhi arah pergerakan rupiah, guna mengantisipasi perubahan kondisi pasar yang cepat. (iza/han)

Editor : Hany Akasah
#rupiah #as #konflik #dolar #global