Industri & Perdagangan Infrastruktur Otomotif Perbankan & Keuangan Person of The Year Properti Transportasi & Logistik Wisata & Kuliner

Belanja Negara Meningkat, NEXT Indonesia Center Nilai Ekonomi Tunjukkan Sinyal Positif

Hany Akasah • Rabu, 8 April 2026 | 11:10 WIB
ILUSTRASI: Masyarakat yang berbelanja di pasar tradisional
ILUSTRASI: Masyarakat yang berbelanja di pasar tradisional

RADAR SURABAYA BISNIS - Kinerja fiskal Indonesia pada triwulan I-2026 menunjukkan arah yang positif seiring dengan meningkatnya belanja negara dan penerimaan yang tetap kuat.

Kondisi ini mencerminkan upaya pemerintah dalam mendorong aktivitas ekonomi tanpa mengabaikan prinsip kehati-hatian dalam pengelolaan anggaran.

Direktur Eksekutif NEXT Indonesia Center, Christiantoko, menilai perkembangan tersebut menjadi indikasi baik bagi perekonomian nasional ke depan.

“Perkembangan yang terjadi saat ini memberikan sinyal positif. Penyerapan belanja pemerintah naik, penerimaan negara juga tumbuh tinggi, sehingga gairah pergerakan ekonomi memberikan harapan baik ke depan,” ungkapnya dalam keterangan tertulis, Selasa (7/4/2026).

Baca Juga: Jaga Kelancaran Logistik, TPS Gelar Simulasi BCMS untuk Uji Ketahanan Operasional Terminal

Berdasarkan data dari Kementerian Keuangan Republik Indonesia, realisasi penerimaan negara hingga akhir triwulan I-2026 mencapai Rp 574,9 triliun atau tumbuh 10,5 persen secara tahunan.

Pertumbuhan ini didorong oleh peningkatan signifikan pada sektor perpajakan yang naik 20,7 persen menjadi Rp 394,8 triliun.

"Pencapaian ini memberikan ruang fiskal yang lebih sehat untuk menopang belanja yang meningkat," kata Christiantoko.

Dari sisi pengeluaran, realisasi belanja negara tercatat sebesar Rp 815,0 triliun, meningkat 31,4 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Baca Juga: Pemerintah Gabungkan 15 BUMN Logistik Jadi Satu Entitas, Target Selesai dalam Sebulan ke Depan

Sementara itu, defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) berada di angka Rp 240,1 triliun atau setara 0,93 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).

Menurut Christiantoko, meskipun defisit mengalami kenaikan dibandingkan periode sebelumnya, angka tersebut masih berada dalam batas yang wajar.
"Jika dicermati secara utuh, angka tersebut justru mencerminkan strategi fiskal yang terukur," ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa peningkatan belanja negara merupakan langkah strategis pemerintah untuk memperkuat pertumbuhan ekonomi, terutama pada awal tahun.

Dengan demikian, defisit yang terjadi bukan merupakan kondisi yang tidak terkendali, melainkan bagian dari kebijakan yang dirancang secara sistematis.

Realisasi belanja negara pada Januari hingga Maret 2026 telah mencapai 21,2 persen dari target tahunan, lebih tinggi dibandingkan rata-rata triwulan I pada tahun-tahun sebelumnya yang berkisar 17 persen.

Secara nominal, penyerapan anggaran juga mengalami lonjakan hingga 31,4 persen.

Baca Juga: El Nino Datang, Pemerintah Perketat Pengawasan Harga Pangan

"Belanja yang meningkat dibandingkan tahun sebelumnya menunjukkan adanya upaya ekspansif yang memang diperlukan, terutama di awal tahun, untuk menjaga momentum pemulihan dan memperkuat daya dorong ekonomi domestik," papar Christiantoko.

Peningkatan belanja tersebut juga terlihat pada berbagai program strategis pemerintah, salah satunya program Makan Bergizi Gratis (MBG), yang dinilai turut mendorong aktivitas ekonomi masyarakat.

Selain itu, faktor musiman seperti momen Lebaran juga memberikan kontribusi terhadap peningkatan pengeluaran pemerintah.

Dalam rangka mendukung konsumsi masyarakat selama periode tersebut, pemerintah menyalurkan stimulus sebesar Rp 15 triliun.

Baca Juga: Bangkit dari Tekanan, Rupiah Menguat Tipis di Pembukaan Perdagangan Hari Ini

Paket ini mencakup berbagai bentuk bantuan, seperti bantuan pangan, diskon transportasi, hingga pemberian Tunjangan Hari Raya (THR) bagi ASN, TNI, dan Polri.

"Belanja pemerintah yang lebih tinggi menjadi pendorong penting untuk menjaga daya beli dan memperkuat perputaran ekonomi," ucap Christiantoko.

Meski melakukan ekspansi fiskal, pemerintah tetap menjaga komitmen terhadap disiplin anggaran.

Target defisit APBN yang dijaga di bawah 3 persen terhadap PDB menjadi acuan utama agar kebijakan tetap berada dalam batas aman.

"Dengan demikian, defisit sebesar 0,93 persen pada triwulan I-2026 harus dilihat bagian dari strategi kebijakan fiskal yang terukur. Selama dikelola secara hati-hati dan tetap dalam batas yang telah ditetapkan, langkah ini justru berpotensi memperkuat fondasi pertumbuhan ekonomi ke depan," tutupnya.

Editor : Hany Akasah
#ekonomi #belanja #pajak #fiskal #apbn