Industri & Perdagangan Infrastruktur Otomotif Perbankan & Keuangan Person of The Year Properti Transportasi & Logistik Wisata & Kuliner

Transaksi Kripto Indonesia Anjlok Rp168 Triliun, Namun Investornya Justru Terus Bertambah

Hany Akasah • Selasa, 7 April 2026 | 15:50 WIB
Penurunan transaksi kripto Indonesia ini diungkap Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dalam acara Bulan Literasi Kripto 2026 di Senayan, Jakarta Pusat, Selasa (7/4/2026).
Penurunan transaksi kripto Indonesia ini diungkap Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dalam acara Bulan Literasi Kripto 2026 di Senayan, Jakarta Pusat, Selasa (7/4/2026).

radarsurabayabisnis.id - Nilai transaksi aset kripto di Indonesia sepanjang 2025 tercatat hanya Rp482,23 triliun. Angka ini turun drastis 25,9 persen atau setara Rp168,38 triliun dibandingkan 2024 yang mencapai Rp650,61 triliun.

Penurunan transaksi kripto Indonesia ini diungkap Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dalam acara Bulan Literasi Kripto 2026 di Senayan, Jakarta Pusat, Selasa (7/4/2026).

Baca Juga: Targetkan KUR Tepat Sasaran, Pemerintah Berencana Ambil Alih PNM dari BRI

Meski transaksi kripto anjlok, jumlah investor kripto di Indonesia justru terus bertambah. Hingga Februari 2026, total investor aset kripto tercatat telah mencapai 21,07 juta akun.

Kepala Eksekutif Pengawas Inovasi Teknologi Sektor Keuangan, Aset Keuangan Digital, dan Aset Kripto OJK, Adi Budiarso, mengatakan penurunan nilai transaksi kripto dipicu situasi global yang membuat investor menahan risiko.

“Pada tahun 2025, nilai transaksi aset kripto tercatat Rp482,23 triliun. Ini menurun sekitar Rp168,38 triliun atau 25,9 persen dibandingkan tahun 2024,” ujar Adi.

Baca Juga: Defisit APBN Capai Rp 240 Triliun, Menkeu: Anggaran Memang Dirancang Defisit

Menurut OJK, salah satu penyebab utama turunnya transaksi kripto Indonesia adalah memanasnya perang dagang Amerika Serikat dan China. Selain itu, konflik di Timur Tengah juga membuat pasar keuangan global menjadi tidak stabil.

Situasi tersebut memicu munculnya risk off sentiment, yakni kondisi ketika investor memilih menarik dana dari aset berisiko seperti kripto dan beralih ke instrumen yang dianggap lebih aman.

Tak hanya itu, kebijakan suku bunga tinggi di Amerika Serikat dan berkurangnya likuiditas global juga ikut menekan pasar aset digital. Dampaknya, terjadi likuidasi besar-besaran pada posisi leverage di pasar kripto.

“Hal ini memicu likuidasi besar-besaran pada posisi leverage di pasar kripto,” kata Adi.

Meski transaksi turun tajam, OJK menilai kepercayaan masyarakat terhadap aset kripto masih cukup kuat. Hal itu terlihat dari terus bertambahnya jumlah investor kripto di Indonesia sepanjang awal 2026.

Jumlah investor yang telah menembus 21,07 juta akun menunjukkan bahwa minat masyarakat terhadap Bitcoin, Ethereum, dan aset kripto lainnya masih tinggi, meski kondisi pasar sedang bergejolak.

Di sisi lain, aset kripto ternyata tetap memberi pemasukan besar bagi negara. Direktorat Jenderal Pajak mencatat penerimaan pajak kripto sepanjang 2025 mencapai Rp796,73 miliar.

Baca Juga: Gandeng Swasta, Pemerintah Kebut Bangun 1.000 Rumah Murah

Menariknya, angka tersebut melonjak tajam pada awal 2026. Hingga Februari 2026 saja, penerimaan pajak dari transaksi aset kripto sudah mencapai Rp1,96 triliun.

Lonjakan penerimaan pajak ini menjadi sinyal bahwa aktivitas perdagangan aset kripto di Indonesia masih berlangsung tinggi, meski nilai transaksinya mengalami penurunan dibanding tahun sebelumnya.

Dengan kondisi tersebut, pasar kripto Indonesia pada 2026 diperkirakan masih akan bergerak fluktuatif. Investor pun diimbau lebih berhati-hati dan memperhatikan sentimen global sebelum membeli aset kripto.

Editor : Hany Akasah
#kripto #ethereum #ojk #investor #bitcoin