RADAR SURABAYA BISNIS – Pola konsumsi seringkali menjadi pembeda utama antara mereka yang sekadar terlihat mapan dengan mereka yang benar-benar membangun kekayaan jangka panjang.
Fenomena kelas menengah yang terjebak dalam dilema antara pemenuhan kenyamanan hidup dan tuntutan finansial kini menjadi sorotan para pakar keuangan global.
Melansir data dari Business Insider dan Yahoo Finance, terdapat perbedaan kontras dalam cara kelas menengah dan kelompok kaya menghabiskan uang mereka.
Baca Juga: Harga Emas Melambung Tinggi, Investasi Perak Kini Jadi Primadona Baru
Sementara kelas menengah cenderung memprioritaskan aset konsumtif, kelompok kaya justru lebih fokus pada efisiensi dan pertumbuhan aset produktif.
Jebakan Gengsi dan Cicilan Panjang
Salah satu poin krusial yang disorot adalah ketergantungan pada cicilan untuk barang konsumtif. Pakar keuangan Jacquesdu Toit menyebutkan bahwa kendaraan mewah atau barang non-esensial seringkali dibeli kelas menengah melalui skema utang yang membebani.
Senada dengan itu, money coach Mary Vallieu mengungkapkan bahwa keluarga kelas menengah kerap mengambil cicilan mobil hingga 8 tahun untuk kendaraan seharga Rp800 juta hingga Rp1 miliar. Sebaliknya, orang kaya cenderung membeli secara tunai atau justru memilih kendaraan bekas yang nilainya lebih stabil.
Baca Juga: Mentan Optimistis Ketahanan Pangan Terjaga, Stok Beras Tembus 4,5 Juta Ton
Investasi Pendidikan dan Properti: Peluang atau Beban?
Pendidikan tinggi memang dianggap sebagai tangga sosial. Namun, Rob Whaley dari Horizon Finance Group mengingatkan bahwa pendidikan bisa menjadi jebakan jika tidak selaras dengan prospek kerja dan minat, terutama jika dibiayai dengan utang besar.
Selain itu, kepemilikan rumah di pinggiran kota yang menguras kantong juga menjadi pembeda. Menurut Marc Afzal, CEO Sell Quick California, kelas menengah banyak menghabiskan dana di sektor ini, sementara kalangan atas lebih memilih menyewa atau berinvestasi di properti premium dengan nilai apresiasi tinggi.
Membangun Kekayaan, Bukan Sekadar Penghasilan
Pakar dari Digital Ascension Group, Jake Claver, menekankan bahwa kelas menengah seringkali terjebak pada keinginan memiliki fitur lebih pada barang kebutuhan dasar, seperti peralatan dapur mahal atau gadget terbaru, meskipun harus berutang.
"Salah satu kunci membangun kekayaan adalah menyesuaikan belanja dengan nilai dan manfaat jangka panjang," ujar Zach Larsen, CEO Pineapple Money.
Menurutnya, fokus utama seharusnya bukan pada gaya hidup saat ini, melainkan pada otomatisasi pengelolaan keuangan dan pembangunan bisnis yang berkelanjutan.
Baca Juga: Rupiah Melemah di Awal Pekan, Tekanan Global dan Ketegangan AS-Iran Jadi Pemicu
Editor : Hany Akasah