Industri & Perdagangan Infrastruktur Otomotif Perbankan & Keuangan Person of The Year Properti Transportasi & Logistik Wisata & Kuliner

Rupiah Melemah di Awal Pekan, Tekanan Global dan Ketegangan AS-Iran Jadi Pemicu

Hany Akasah • Senin, 6 April 2026 | 09:37 WIB
ILUSTRASI: Mata uang rupiah yang melorot pada perdagangan Senin (6/4/2026)
ILUSTRASI: Mata uang rupiah yang melorot pada perdagangan Senin (6/4/2026)

RADAR SURABAYA BISNIS - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) mengalami pelemahan pada awal perdagangan Senin (6/4/2026).

Tekanan terhadap mata uang rupiah dipengaruhi oleh sentimen global, terutama meningkatnya ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran, serta penguatan dolar AS di pasar internasional.

Berdasarkan data Bloomberg pada pukul 09.06 WIB di pasar spot exchange, rupiah tercatat melemah sebesar 19 poin atau 0,11 persen ke level Rp 16.999 per dolar AS.

Pergerakan ini mencerminkan tekanan eksternal yang masih membayangi pasar keuangan, khususnya bagi mata uang negara berkembang.

Baca Juga: Harga Emas Antam Anjlok di Awal Pekan, Buyback Ikut Terpukul

Di saat yang sama, indeks dolar AS menunjukkan penguatan dengan kenaikan sebesar 0,23 persen ke posisi 100,25.

Menguatnya dolar AS membuat mata uang lain, termasuk rupiah, cenderung tertekan karena investor global lebih memilih aset berbasis dolar yang dinilai lebih aman dalam kondisi ketidakpastian.

Kondisi geopolitik yang memanas, khususnya terkait hubungan antara AS dan Iran, menjadi salah satu faktor utama yang memengaruhi arah pergerakan pasar.

Ketegangan tersebut meningkatkan kekhawatiran investor terhadap stabilitas global, sehingga mendorong pergeseran aliran dana ke instrumen yang dianggap lebih aman.

Baca Juga: Prediksi Puncak Kemarau Agustus 2026, Petani Jatim Harus Siapkan Strategi untuk Hadapi Musim Kemarau

Selain rupiah, sejumlah mata uang di kawasan Asia juga diperkirakan menghadapi tekanan serupa.

Mata uang seperti won Korea Selatan, peso Filipina, dan baht Thailand dinilai masih berada dalam kondisi rentan terhadap pelemahan, seiring kuatnya pengaruh sentimen global.

Situasi ini menunjukkan bahwa pergerakan nilai tukar di kawasan tidak hanya dipengaruhi faktor domestik, tetapi juga sangat bergantung pada dinamika eksternal.

Kebijakan ekonomi global, konflik geopolitik, serta pergerakan indeks dolar menjadi faktor utama yang menentukan arah pasar.

Baca Juga: Krisis Sulfur Global, Hilirisasi Nikel Indonesia Terancam Akibat Konflik Timur Tengah

Pelaku pasar pun diimbau untuk terus mencermati perkembangan global yang dapat memicu volatilitas nilai tukar.

Dengan kondisi yang masih tidak menentu, fluktuasi rupiah diperkirakan akan tetap terjadi dalam waktu dekat. (iza/han)

Editor : Hany Akasah
#perdagangan #rupiah #dolar #uang #investor