RADAR SURABAYA BISNIS – Belakangan ini, fenomena flexing atau pamer kekayaan di media sosial semakin marak. Namun, apakah mereka yang gemar memamerkan kemewahan benar-benar memiliki aset yang stabil?
Pakar Manajemen Universitas Indonesia, Rhenald Kasali, mengungkapkan bahwa terdapat perbedaan mencolok antara karakter orang kaya asli dengan mereka yang hanya sekadar berpura-pura kaya.
Dalam sebuah diskusi, Rhenald menekankan bahwa orang kaya sesungguhnya justru memiliki kecenderungan untuk bersikap santai dan tidak menjadikan harta sebagai bahan pembicaraan utama.
Baca Juga: APINDO Nilai WFH 1 Hari Seminggu Bisa Ganggu Operasional, Ini Harapan Pengusaha
Sebaliknya, fenomena flexing sering kali dilakukan demi mendapatkan pengakuan semata, yang belum tentu mencerminkan kondisi finansial yang sehat.
Investasi di Atas Konsumsi
Salah satu ciri pembeda yang paling kontras adalah cara mereka mengelola arus kas. Orang kaya sejati memandang menabung sebagai sebuah kewajiban fundamental.
Mengutip prinsip investor dunia, Warren Buffett, disarankan agar setidaknya sepertiga dari penghasilan dialokasikan langsung untuk tabungan sebelum digunakan untuk kebutuhan lain.
Baca Juga: Pengguna Mobil Listrik Meledak Saat Mudik Lebaran 2026, SPKLU PLN Diserbu hingga 4 Kali Lipat
"Orang kaya sejati lebih fokus pada investasi dibandingkan sekadar membeli barang konsumtif," ujar Rhenald. Ia mencontohkan langkah bisnis Reino Barack yang memilih memutar keuntungan dari investasi saham untuk membangun sektor riil, seperti bisnis restoran, alih-alih hanya mengikuti tren konsumsi sesaat.
Strategi Hemat dan Jangka Panjang
Selain fokus pada aset, orang kaya sesungguhnya memiliki strategi hemat yang terukur. Mereka tidak serta-merta membeli sesuatu hanya karena memiliki kemampuan finansial. Setiap pengeluaran dipertimbangkan berdasarkan manfaat dan dampak jangka panjangnya.
Rhenald menghimbau masyarakat agar lebih bijak dan kritis dalam melihat konten-konten kemewahan di media sosial. Menurutnya, literasi keuangan yang kuat lebih penting daripada terjebak dalam kompetisi gaya hidup yang semu.
Dengan memahami strategi investasi dan manajemen pengeluaran yang benar, masyarakat diharapkan dapat membangun kemandirian finansial yang berkelanjutan.
Editor : Hany Akasah