Industri & Perdagangan Infrastruktur Otomotif Perbankan & Keuangan Person of The Year Properti Transportasi & Logistik Wisata & Kuliner

Pengalaman vs Tabungan: Strategi Manajemen Keuangan Modern bagi Anak Muda

Hany Akasah • Kamis, 2 April 2026 | 08:25 WIB
ILUSTRASI: Tangan seseorang memasukkan koin ke dalam toples kaca bertuliskan
ILUSTRASI: Tangan seseorang memasukkan koin ke dalam toples kaca bertuliskan 'Saving' dikelilingi tumpukan uang logam.

RADAR SURABAYA BISNIS – Fenomena experience economy atau ekonomi berbasis pengalaman tengah melanda generasi muda Indonesia. Di kota-kota besar, pilihan antara menyisihkan gaji untuk dana darurat atau menggunakannya untuk healing dan konser musik menjadi perdebatan hangat di media sosial. 

Hal ini memicu pertanyaan besar: apakah belanja pengalaman adalah pemborosan atau justru investasi baru?

Mengacu pada data perilaku konsumen terbaru, terdapat pergeseran signifikan di mana anak muda lebih menghargai memori dan relasi dibandingkan aset fisik. 

Namun, tantangannya tetap sama: literasi keuangan yang rendah sering kali menjebak mereka dalam siklus makan tabungan demi tuntutan gaya hidup.

Baca Juga: Sekarang Belanja di Korea Selatan Bisa Pakai QRIS, Tak Perlu Tukar Won

Belanja Pengalaman: Investasi atau Gengsi?

Pakar keuangan menekankan pentingnya membedakan antara konsumsi murni dengan akumulasi aset tak berwujud. Tren bepergian atau mengikuti kursus kreatif sering kali dipandang sebagai biaya. Padahal, jika dilakukan secara strategis, hal tersebut bisa menjadi investasi keterampilan dan jaringan (networking).

"Setiap rupiah yang keluar harus memiliki tujuan. Jika seorang content creator menghabiskan uang untuk traveling demi riset pasar dan portofolio, itu adalah akumulasi modal kerja, bukan sekadar gaya hidup," ungkap Nguyen Minh Tuan, CEO sekaligus pendiri Komunitas Penasihat Keuangan Vietnam.

Baca Juga: Mendagri Terbitkan Aturan WFH ASN, Ini Jabatan yang Dikecualikan!

Belajaran dari Pandemi dan Risiko 'FOMO'

Risiko utama yang membayangi anak muda Indonesia adalah tekanan sosial atau Fear of Missing Out (FOMO). Tanpa rencana keuangan yang jelas, banyak yang terjebak dalam utang konsumtif atau cicilan pinjaman online demi tren sesaat.

Pengalaman pahit selama pandemi beberapa tahun lalu menjadi pengingat keras. Mereka yang tidak memiliki bantalan finansial atau dana darurat adalah yang paling terdampak saat industri terhenti. 

Realitas ini menunjukkan bahwa manajemen keuangan tetap merupakan keterampilan hidup (life skill) yang paling krusial di era ketidakpastian.

Baca Juga: Isi Pertalite Kini Dibatasi 50 Liter Per Hari, Cek Aturan Lengkapnya di Sini

Menuju Keseimbangan Finansial

Kuncinya bukan terletak pada hidup serba irit (frugal living) yang menyiksa, melainkan pada keseimbangan. Menabung memberikan keamanan di masa depan, sementara belanja pengalaman memberikan kekayaan mental dan peluang karier di masa kini. 

Tantangan bagi anak muda Indonesia adalah memahami nilai dari setiap pengeluaran: apakah uang yang dikeluarkan hari ini akan menciptakan nilai tambah di masa depan.

Baca Juga: Target 82 Ribu Kopdes Merah Putih Rampung 2026, Begini Skema Bagi Hasilnya bagi Warga Desa

Editor : Hany Akasah
#self reward #tabungan #Gen Z #pengalaman #keuangan