RADAR SURABAYA BISNIS - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) menguat pada perdagangan Rabu, 1 April 2026.
Penguatan ini terjadi setelah sebelumnya rupiah sempat mengalami tekanan pada penutupan perdagangan sehari sebelumnya.
Berdasarkan data Bloomberg pada pukul 09.10 WIB di pasar spot exchange, rupiah tercatat menguat sebesar 62 poin atau 0,36 persen ke level Rp 16.979 per dolar AS.
Pada saat yang sama, indeks dolar AS justru mengalami pelemahan sebesar 0,17 persen ke posisi 99,78.
Baca Juga: Awal April Positif, Harga Emas Antam dan Buyback Kompak Melonjak
Penguatan rupiah ini tidak terlepas dari meredanya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah.
Kondisi tersebut memberikan sentimen positif bagi pasar keuangan global, termasuk mata uang negara berkembang seperti rupiah.
Sebelumnya, pada perdagangan Selasa, 31 Maret 2026, rupiah ditutup melemah sebesar 39 poin ke level Rp 17.041 per dolar AS.
Pelemahan tersebut dipengaruhi oleh meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap kondisi global, khususnya terkait konflik geopolitik.
Baca Juga: Cara Mengatur Keuangan Bulanan Agar Tidak Habis Sebelum Akhir Bulan
Meredanya tensi di Timur Tengah saat ini dinilai mampu meredakan kekhawatiran investor terhadap risiko global.
Hal ini mendorong peningkatan minat terhadap aset berisiko, termasuk mata uang emerging market.
Meski demikian, pelaku pasar tetap diminta untuk waspada terhadap perkembangan situasi global.
Arah pergerakan nilai tukar rupiah ke depan masih sangat dipengaruhi oleh dinamika geopolitik, kebijakan ekonomi global, serta pergerakan indeks dolar AS.
Baca Juga: THR Tak Dibayar Penuh Karena Alasan Absensi, Menaker Sidak Perusahaan Nakal
Selain faktor geopolitik, sentimen lain seperti kebijakan suku bunga global, pergerakan harga komoditas, serta kondisi ekonomi domestik juga turut menjadi penentu pergerakan rupiah.
Oleh karena itu, volatilitas nilai tukar masih berpotensi terjadi dalam waktu dekat.
Dengan kondisi yang masih dinamis, investor dan pelaku pasar diharapkan terus mencermati berbagai indikator global sebelum mengambil keputusan, guna mengantisipasi perubahan arah pergerakan rupiah di pasar keuangan. (iza/han)
Editor : Hany Akasah