RADAR SURABAYA BISNIS – Fenomena "gaji numpang lewat" masih menjadi tantangan besar bagi banyak pekerja muda di Indonesia.
Minimnya literasi keuangan seringkali membuat pendapatan bulanan habis tanpa jejak sebelum waktunya. Menanggapi masalah ini, metode budgeting 70-20-10 muncul sebagai salah satu strategi paling efektif dan sederhana yang direkomendasikan bagi para fresh graduate.
Berbeda dengan metode rumit yang mengharuskan pencatatan setiap perak pengeluaran, metode 70-20-10 membagi penghasilan ke dalam tiga pos besar secara instan.
Pendekatan ini dinilai lebih realistis bagi mereka yang baru saja memasuki dunia kerja dan ingin tetap menikmati hidup tanpa mengorbankan masa depan.
Baca Juga: Kunjungan Wisatawan Jepang Naik 12%, Kemenpar Bidik Kerja Sama Strategis Lewat Jalur Udara
Membongkar Porsi Alokasi 70-20-10
Pilar pertama dalam metode ini adalah mengalokasikan 70% gaji untuk kebutuhan bulanan (Needs). Komponen ini mencakup biaya hidup pokok seperti makan, tagihan listrik, transportasi, hingga biaya tempat tinggal.
Jika pengeluaran rutin melampaui angka ini, hal tersebut menjadi sinyal bahwa kondisi finansial sedang tidak sehat dan perlu ada evaluasi pada gaya hidup.
Selanjutnya, 20% dialokasikan untuk tabungan dan investasi. Pos ini seringkali terabaikan, padahal fungsinya krusial untuk keamanan jangka panjang.
Baca Juga: Inovasi Mahasiswa UBAYA: Tas Unik dari Serabut Kelapa Ini Bisa Ditanam dan Tumbuh Jadi Bunga
Prioritas utamanya adalah pembentukan dana darurat, disusul dengan tabungan tujuan khusus dan investasi pada instrumen seperti emas atau reksa dana.
Sisa 10% dialokasikan untuk gaya hidup (Wants). Porsi ini memberikan ruang bagi pekerja untuk tetap bisa bersosialisasi, menonton film, atau berlibur.
Dengan adanya batasan yang jelas, rasa bersalah saat mengeluarkan uang untuk hiburan dapat diminimalisir karena sudah terjadwal dalam anggaran.
Fleksibilitas Sebagai Kunci Utama
Keunggulan utama dari metode 70-20-10 adalah sifatnya yang adaptif. Pakar keuangan menyebutkan bahwa angka ini tidak bersifat kaku.
Jika seseorang memiliki beban cicilan yang besar atau tinggal di kota dengan biaya hidup tinggi, porsi tersebut bisa disesuaikan menjadi 75-15-10.
Namun, untuk mencapai keberhasilan finansial, disiplin menjadi harga mati. Beberapa kesalahan fatal yang sering dilakukan adalah ketidakkonsistenan dalam pembagian dan penggunaan dana tabungan untuk kebutuhan konsumtif.
Baca Juga: Bank Jatim Catat Laba Bersih Rp1,54 Triliun, Aset Tembus Rp105,8 Triliun, Ini Strategi yang DIpakai
Dengan menerapkan sistem ini sejak awal karier, pekerja muda diharapkan tidak hanya mampu bertahan hidup dari bulan ke bulan, tetapi juga mulai membangun pondasi kekayaan yang stabil di masa depan.
Editor : Hany Akasah