radarsurabayabisnis.id - PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Timur Tbk (Bank Jatim) berhasil menutup tahun 2025 dengan kinerja keuangan yang positif di tengah ketatnya persaingan industri perbankan.
Capaian tersebut disampaikan dalam Paparan Publik Kinerja Keuangan Bank Jatim Tahun 2025 yang digelar di Hotel Discovery SCBD Jakarta, Senin (30/3).
Baca Juga: Rupiah Ditutup Melemah di Tengah Dinamika Pasar Global dan Sentimen Geopolitik
Direktur Utama Bank Jatim Winardi Legowo mengatakan, perseroan mampu menjaga stabilitas kinerja melalui strategi bisnis dan keuangan yang adaptif di tengah dinamika ekonomi.
“Manajemen mengedepankan keseimbangan pengelolaan Dana Pihak Ketiga dengan memperbesar porsi dana murah serta penerbitan obligasi untuk menjaga stabilitas pendanaan,” ujarnya.
Selain menjaga pendanaan, Bank Jatim juga memperketat penyaluran kredit dengan fokus pada sektor-sektor prospektif. Perseroan memperkuat kredit konsumer, meningkatkan efisiensi operasional, serta mendorong digitalisasi transaksi guna meningkatkan pendapatan non-bunga.
Lima Pilar Transformasi Bank Jatim
Sebagai bagian dari transformasi bisnis, Bank Jatim menjalankan lima pilar utama, yaitu: Penguatan tata kelola dan manajemen risiko, Optimalisasi bisnis berbasis ekosistem, Peningkatan kualitas sumber daya manusia, Penguatan teknologi informasi dan digitalisasi, Sinergi dalam Kelompok Usaha Bank.
Baca Juga: Isu Kenaikan Harga BBM 1 April Berhembus, Pertamina Pastikan Belum Ada Pengumuman Resmi
Kinerja Bank Jatim 2025
Sepanjang 2025, total aset Bank Jatim mencapai Rp105,8 triliun atau tumbuh 3,70 persen secara tahunan (year on year/YoY).
Penyaluran kredit tercatat sebesar Rp67,2 triliun, meningkat 4,98 persen YoY. Sementara itu, Dana Pihak Ketiga (DPK) tumbuh 1,43 persen.
Baca Juga: Harga Emas Antam Kembali Terkoreksi, Buyback Ikut Melemah di Tengah Pergerakan Pasar
Bank Jatim juga membukukan laba bersih sebesar Rp1,54 triliun atau naik 20,65 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
“Bank Jatim juga berhasil membukukan laba bersih sebesar Rp1,54 triliun atau naik 20,65 persen dibandingkan tahun sebelumnya,” terang Winardi.
Komposisi kredit Bank Jatim masih didominasi kredit konsumer sebesar Rp36,54 triliun atau tumbuh 6,20 persen. Adapun kredit produktif mencapai Rp30,7 triliun atau meningkat 3,55 persen.
Di sisi penghimpunan dana, strategi berbasis ekosistem dan transaction banking mendorong kenaikan giro menjadi Rp21,4 triliun atau tumbuh 12,5 persen YoY. Jumlah nasabah Dana Pihak Ketiga juga meningkat 5,64 persen menjadi 10,9 juta nasabah.
Kinerja Konsolidasi Melonjak
Secara konsolidasi, Bank Jatim mencatat pertumbuhan yang lebih tinggi. Total aset mencapai Rp168,855 triliun atau naik 42,93 persen YoY.
Baca Juga: Warga Surabaya Wajib Tahu, Bayar Parkir Tepi Jalan Segera Pakai Voucher, Ini Alasannya
Penyaluran kredit meningkat 46,65 persen menjadi Rp110,503 triliun. Sementara itu, laba bersih konsolidasi tumbuh 24,80 persen menjadi Rp1,617 triliun.
Strategi Menjaga Kualitas Kredit
Untuk menjaga kualitas aset, Bank Jatim melakukan sejumlah langkah strategis. Perseroan mencatat hapus buku kredit sebesar Rp1,03 triliun dengan recovery rate 18,6 persen.
Selain itu, Bank Jatim juga melakukan restrukturisasi kredit senilai Rp4,17 triliun.
“Kami juga terus memperkuat monitoring dan controlling secara berkala untuk penanganan kredit bermasalah,” imbuh Winardi.
Jadi Induk Lima BPD
Dalam pengembangan usaha, Bank Jatim resmi menjadi induk bagi lima Bank Pembangunan Daerah, yakni Bank NTB Syariah, Bank Banten, Bank Lampung, Bank Sultra, dan Bank NTT.
Sinergi antarbank tersebut akan mulai dioptimalkan pada 2026, terutama untuk memperkuat bisnis dan keuangan.
Layanan Digital JConnect Tumbuh Pesat
Transformasi digital Bank Jatim melalui layanan JConnect juga menunjukkan kinerja positif. Pengguna JConnect Mobile mencapai 993.972 user atau tumbuh 22,40 persen.
Nilai transaksi JConnect Mobile tercatat sebesar Rp65,77 triliun. Sementara itu, transaksi QRIS Bank Jatim mencapai Rp3,94 triliun atau meningkat 47,25 persen.
Dengan capaian tersebut, Bank Jatim optimistis dapat terus meningkatkan daya saing, memperluas pangsa pasar, dan memperkuat posisinya sebagai Bank Pembangunan Daerah nomor satu di Indonesia.
Editor : Hany Akasah