RADAR SURABAYA BISNIS - Pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) berakhir di zona negatif pada perdagangan Selasa, 31 Maret 2026.
Hingga pukul 15.00 WIB, mata uang rupiah tercatat berada di level Rp 17.041 per dolar AS, atau terkoreksi sebesar 0,23 persen berdasarkan data Bloomberg.
Kondisi tersebut terjadi di tengah pergerakan indeks dolar AS yang justru mengalami pelemahan tipis.
Indeks dolar tercatat turun sebesar 0,06 persen ke posisi 100,45, menandakan adanya dinamika yang berbeda antara pergerakan rupiah dan mata uang acuan global tersebut.
Baca Juga: Isu Kenaikan Harga BBM 1 April Berhembus, Pertamina Pastikan Belum Ada Pengumuman Resmi
Di kawasan Asia, pergerakan mata uang berlangsung bervariasi.
Yen Jepang mencatatkan penguatan sebesar 0,04 persen.
Dolar Singapura juga bergerak naik 0,06 persen, diikuti yuan China yang menguat 0,09 persen.
Sementara itu, sejumlah mata uang lainnya justru mengalami tekanan, seperti dolar Hong Kong yang melemah 0,04 persen, dolar Taiwan turun 0,12 persen, dan won Korea Selatan yang terkoreksi cukup dalam hingga 0,90 persen.
Baca Juga: Arus Balik Usai, Jasa Marga Kembali Berlakukan Dua Arah di Ruas Tol Utama
Pelemahan juga dialami peso Filipina yang turun 0,02 persen, ringgit Malaysia melemah 0,27 persen, serta baht Thailand yang terkoreksi 0,23 persen terhadap dolar AS.
Pengamat komoditas dan mata uang Ibrahim Assuaibi menilai tekanan terhadap rupiah masih berpotensi berlanjut dalam beberapa waktu ke depan.
Ia melihat adanya kecenderungan indeks dolar AS untuk kembali menguat, yang dapat memberikan tekanan tambahan pada mata uang negara berkembang.
Selain faktor tersebut, sentimen global lainnya juga dinilai berpengaruh terhadap pergerakan pasar.
Baca Juga: Harga Emas Antam Kembali Terkoreksi, Buyback Ikut Melemah di Tengah Pergerakan Pasar
Kondisi geopolitik di kawasan Timur Tengah yang masih memanas menjadi salah satu perhatian utama, terutama terkait pembatasan jalur transportasi di Selat Hormuz.
Ketegangan di wilayah tersebut berpotensi mengganggu distribusi energi global, yang pada akhirnya dapat memicu volatilitas di pasar komoditas dan keuangan.
Dampak lanjutan dari kondisi ini turut dirasakan oleh nilai tukar mata uang, termasuk rupiah.
Pelaku pasar pun diimbau untuk terus mencermati perkembangan global, baik dari sisi kebijakan ekonomi maupun situasi geopolitik, guna mengantisipasi potensi pergerakan nilai tukar dalam waktu dekat. (iza/han)
Editor : Hany Akasah