Industri & Perdagangan Infrastruktur Otomotif Perbankan & Keuangan Person of The Year Properti Transportasi & Logistik Wisata & Kuliner

Harga BBM Berpotensi Alami Penyesuaian Awal April, Kekhawatiran Publik Menguat

Hany Akasah • Senin, 30 Maret 2026 | 12:09 WIB
ILUSTRASI: Pengisi bahan bakar di SPBU menjelang potensi penyesuaian harga BBM yang dijadwalkan awal April 2026
ILUSTRASI: Pengisi bahan bakar di SPBU menjelang potensi penyesuaian harga BBM yang dijadwalkan awal April 2026

RADAR SURABAYA BISNIS - Penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi yang rutin dilakukan setiap awal bulan kembali menjadi perhatian masyarakat menjelang 1 April 2026. 

Meski merupakan agenda berkala, kondisi kali ini memicu kewaspadaan lebih tinggi karena adanya tekanan global yang berpotensi memengaruhi harga energi.

Seperti yang diketahui, pemerintah dan badan usaha biasanya melakukan penyesuaian harga BBM nonsubsidi setiap tanggal 1 mulai pukul 00.00 WIB. 

Namun, hingga saat ini belum ada kepastian apakah harga BBM pada April akan mengalami kenaikan atau justru penurunan.

Baca Juga: Iran Patok Biaya Selangit untuk Lewati Selat Hormuz, Capai Puluhan Miliar per Kapal

Perhatian publik meningkat seiring tren kenaikan harga BBM di sejumlah negara Asia Tenggara.

Thailand, misalnya, telah menaikkan harga BBM sejak 26 Maret 2026.

Kenaikan tersebut mencapai sekitar 6 baht per liter atau setara Rp 3.000, dengan persentase kenaikan berkisar antara 14 hingga 22 persen.

Kebijakan itu diambil sebagai langkah untuk menekan beban subsidi di tengah lonjakan harga minyak dunia akibat konflik geopolitik.

Baca Juga: Beli Token Rp 100 Ribu Dapat Berapa kWh? Cek Skema Tarif Listrik PLN Terbaru Mulai April 2026

Tekanan terhadap harga energi global juga dipicu oleh situasi di Selat Hormuz, yang merupakan salah satu jalur utama distribusi minyak dunia.

Gangguan di kawasan tersebut menyebabkan harga minyak mentah terus bergerak naik, sehingga meningkatkan ketidakpastian di pasar energi internasional.

Di Indonesia, harga BBM yang dijual di sejumlah stasiun pengisian seperti Pertamina, Shell, BP, dan Vivo Energy masih bertahan pada level yang sama seperti yang ditetapkan pada awal Maret 2026.

Meski demikian, kondisi tersebut tidak menutup kemungkinan adanya perubahan harga dalam waktu dekat.

Untuk BBM bersubsidi seperti Pertalite dan Biosolar, harga masih belum mengalami perubahan.

Sementara itu, BBM nonsubsidi telah mengalami kenaikan bertahap sejak awal Maret, dengan penyesuaian berkisar antara Rp 200 hingga Rp 950 per liter.

Baca Juga: Rupiah Tertekan di Awal Pekan, Penguatan Dolar AS dan Sentimen Global Jadi Pemicu

Di kawasan regional, tekanan yang lebih berat bahkan dialami oleh Filipina yang dilaporkan mulai memasuki fase krisis energi setelah harga bahan bakar melonjak hingga lebih dari dua kali lipat.

Sementara itu, di Singapura, harga BBM telah mencapai kisaran Rp 50.000 per liter, mencerminkan tingginya tekanan harga energi di wilayah tersebut.

Melihat perkembangan tersebut, Indonesia diperkirakan tidak akan sepenuhnya terlepas dari dampak kenaikan harga minyak global, terutama jika gangguan distribusi energi dunia belum mereda.

Oleh karena itu, masyarakat diimbau untuk tetap tenang, tidak melakukan pembelian berlebihan (panic buying), serta menggunakan BBM secara lebih hemat dan bijak. (iza/han)

Editor : Hany Akasah
#energi #bbm #ekonom #minyak #Nonsubsidi #subsidi #global