Industri & Perdagangan Infrastruktur Otomotif Perbankan & Keuangan Person of The Year Properti Transportasi & Logistik Wisata & Kuliner

Rupiah Tertekan di Awal Pekan, Penguatan Dolar AS dan Sentimen Global Jadi Pemicu

Hany Akasah • Senin, 30 Maret 2026 | 09:55 WIB
ILUSTRASI: Rupiah yang bergerak melemah pada perdagangan Senin (30/3/2026)
ILUSTRASI: Rupiah yang bergerak melemah pada perdagangan Senin (30/3/2026)

RADAR SURABAYA BISNIS - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dibuka melemah pada perdagangan Senin (30/3/2026).

Berdasarkan data Bloomberg pada pukul 09.05 WIB, rupiah berada di posisi Rp 16.981 per dolar AS atau turun sebesar 0,01 persen dibandingkan perdagangan sebelumnya.

Seiring dengan pelemahan rupiah, mata uang dolar AS atau greenback terpantau menguat.

Indeks dolar AS tercatat naik 0,04 persen ke level 100,19, menunjukkan adanya peningkatan permintaan terhadap mata uang tersebut di pasar global.

Baca Juga: Harga Emas Antam Melemah di Awal Pekan, Simak Rincian Terbarunya

Tidak hanya rupiah, mayoritas mata uang di kawasan Asia juga mengalami tekanan terhadap dolar AS.

Dolar Singapura tercatat melemah 0,07 persen, disusul won Korea yang turun 0,20 persen. Peso Filipina turut terdepresiasi sebesar 0,36 persen.

Tekanan juga terlihat pada mata uang lainnya, seperti rupee India yang melemah 0,89 persen, dolar Hong Kong yang turun 0,01 persen, serta ringgit Malaysia yang terkoreksi 0,19 persen.

Baht Thailand juga mengalami penurunan sebesar 0,11 persen, sementara yuan China melemah 0,13 persen.

Baca Juga: Distribusi Program MBG di Wilayah 3T Ditambah Jadi 6 Hari, BGN Tekankan Akurasi Data

Di sisi lain, yen Jepang menjadi satu-satunya mata uang yang menguat terhadap dolar AS dengan kenaikan sebesar 0,22 persen.

Penguatan dolar AS menjadi faktor utama yang menekan pergerakan rupiah.

Kenaikan indeks dolar dipicu oleh ekspektasi pasar terhadap kebijakan bank sentral AS, Federal Reserve, yang diperkirakan masih berpotensi menaikkan suku bunga acuan tahun ini.

Kondisi ini berbeda dari harapan sebelumnya yang mengarah pada kemungkinan penurunan suku bunga.

Kebijakan suku bunga tinggi di AS membuat instrumen investasi berbasis dolar menjadi lebih menarik bagi investor global.

Akibatnya, aliran modal cenderung bergerak menuju aset-aset tersebut, sehingga memberikan tekanan pada mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

Baca Juga: Harga Emas Hari Ini 29 Maret 2026 Naik, Antam Tembus Rp2,93 Juta, Berikut Detail Harga Emas Antam, Galeri24 dan UBS

Selain itu, kenaikan harga minyak dunia turut memperburuk tekanan terhadap nilai tukar rupiah.

Lonjakan harga energi berpotensi memperbesar defisit transaksi berjalan Indonesia serta meningkatkan tekanan inflasi domestik.

Kondisi ini pada akhirnya dapat memengaruhi stabilitas nilai tukar rupiah di pasar keuangan.

Pelaku pasar diharapkan terus mencermati perkembangan global, khususnya kebijakan moneter AS dan pergerakan harga komoditas, yang berpotensi memengaruhi arah pergerakan rupiah dalam waktu dekat. (iza/han)

Editor : Hany Akasah
#rupiah #dolar #asia #amerika serikat #uang #investor