RADAR SURABAYA BISNIS - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) memulai perdagangan Jumat (27/3/2026) dengan kecenderungan melemah.
Pergerakan ini sejalan dengan kondisi sejumlah mata uang di kawasan Asia yang juga menunjukkan tekanan di tengah ketidakpastian global yang masih tinggi.
Mengacu pada data Bloomberg hingga pukul 09.00 WIB, rupiah tercatat berada di level Rp 16.924 per dolar AS, atau turun sekitar 0,12 persen dibandingkan posisi sebelumnya.
Di sisi lain, indeks dolar AS yang mencerminkan kekuatan greenback terhadap sejumlah mata uang utama dunia juga mengalami penurunan tipis sebesar 0,04 persen ke level 99,85.
Baca Juga: Emas Antam Terjun Dalam, Harga Hari Ini Merosot Tajam dari Posisi Sebelumnya
Tidak hanya rupiah, beberapa mata uang Asia lainnya turut mengalami pelemahan.
Dolar Hong Kong tercatat turun sekitar 0,05 persen, diikuti dolar Taiwan yang melemah 0,04 persen.
Sementara itu, peso Filipina mengalami penurunan sebesar 0,19 persen, rupee India turun 0,11 persen, dan ringgit Malaysia mencatatkan pelemahan paling dalam di antara yang lain, yakni sebesar 0,31 persen.
Meski mayoritas berada di zona negatif, sebagian mata uang Asia masih mampu mencatatkan penguatan.
Baht Thailand terlihat menguat sekitar 0,19 persen, disusul won Korea Selatan yang naik 0,17 persen.
Selain itu, dolar Singapura juga mencatatkan kenaikan tipis sebesar 0,02 persen, sementara yen Jepang menguat sekitar 0,21 persen terhadap dolar AS.
Pergerakan yang beragam ini mencerminkan kondisi pasar yang masih diliputi ketidakpastian.
Minimnya kejelasan terkait perkembangan geopolitik global, termasuk belum adanya negosiasi langsung dalam konflik yang berlangsung, membuat pelaku pasar cenderung berhati-hati.
Situasi tersebut juga berdampak pada pasar energi, khususnya minyak, yang terlihat bergerak lesu dan cenderung fluktuatif.
Ketidakstabilan harga energi ini turut memengaruhi sentimen investor di pasar keuangan, termasuk pergerakan mata uang.
Dengan kondisi yang masih dinamis, nilai tukar rupiah diperkirakan akan terus bergerak mengikuti perkembangan sentimen global.
Oleh karena itu, pelaku pasar diharapkan tetap mencermati berbagai faktor eksternal yang dapat memengaruhi arah pergerakan rupiah dalam jangka pendek. (iza/han)
Editor : Hany Akasah