Industri & Perdagangan Infrastruktur Otomotif Perbankan & Keuangan Person of The Year Properti Transportasi & Logistik Wisata & Kuliner

Mengenal Soft Saving, Tren Finansial Gen Z yang Prioritaskan Kebahagiaan di Tengah Tekanan Ekonomi

Hany Akasah • Kamis, 26 Maret 2026 | 10:12 WIB
ILUSTRASI: Tangan seseorang memasukkan koin ke dalam toples kaca bertuliskan
ILUSTRASI: Tangan seseorang memasukkan koin ke dalam toples kaca bertuliskan 'SAVE' dikelilingi tumpukan uang logam.

RADAR SURABAYA BISNIS – Di tengah melambungnya biaya hidup global dan ketidakpastian ekonomi, sebuah tren pengelolaan keuangan baru mulai mendominasi kalangan generasi muda. 

Konsep ini dikenal sebagai soft saving, sebuah pendekatan finansial yang lebih fleksibel dan memprioritaskan kesejahteraan mental serta pengalaman hidup saat ini daripada menabung secara agresif untuk masa depan yang belum pasti.

Soft saving muncul sebagai antitesis dari hard saving atau metode menabung konvensional yang menuntut pengorbanan konsumsi besar demi tujuan jangka panjang seperti dana pensiun dini atau pembelian properti. 

Baca Juga: Lebih dari Sekadar Kafein, Ini Rahasia Mengapa Kopi Indonesia Jadi Incaran Dunia

Sebaliknya, penganut soft saving lebih memilih mengalokasikan dana untuk hal-hal yang meningkatkan kualitas hidup sekarang, seperti hobi, perjalanan, dan pengembangan diri.

Akar dari Tren Soft Life

Fenomena ini berakar dari tren gaya hidup soft life yang menekankan pada pengurangan stres dan penolakan terhadap produktivitas berlebihan yang toksik. 

Dalam konteks keuangan, hal ini diterjemahkan menjadi pemenuhan kebutuhan emosional tanpa sepenuhnya mengabaikan disiplin finansial.

Baca Juga: Wajib Tahu! Aturan Baru Arab Saudi Ancam Denda Jika Jemaah Umrah Overstay

Data dari survei Intuit tahun 2023 memperkuat pergeseran ini, yang menunjukkan bahwa sekitar 73 persen Gen Z merasa ragu untuk menetapkan target keuangan jangka panjang karena kondisi ekonomi yang tidak menentu. 

Bagi banyak orang, memiliki rumah atau pensiun mewah terasa semakin sulit digapai, sehingga mereka memilih untuk menikmati hasil kerja keras mereka saat ini.

Keseimbangan antara Fleksibilitas dan Risiko

Meskipun menawarkan kesehatan mental yang lebih baik dan beban finansial yang terasa lebih ringan, soft saving tetap memiliki risiko tersendiri. 

Baca Juga: Resmi Berlaku! WFH Tiap Rabu di Jawa Timur, Ini Alasan Tidak Dipilih Hari Jumat

Pengamat keuangan mengingatkan bahwa tanpa perencanaan yang matang, tabungan yang minim berpotensi membuat individu kurang siap menghadapi keadaan darurat atau kehilangan peluang investasi jangka panjang.

Kunci utama dari soft saving bukanlah berhenti menabung, melainkan menjaga konsistensi. Fokusnya bergeser dari nominal yang besar ke kebiasaan menyisihkan uang secara berkelanjutan, meskipun dalam jumlah kecil, sembari tetap menjaga keseimbangan hidup yang sehat.

Baca Juga: Filipina Darurat Energi, Indonesia Justru Aman! ESDM Ungkap Kondisi BBM dan LPG Indonesia Saat Ini

Editor : Hany Akasah
#soft #saving #genangan #tren #uang #menabung