RADAR SURABAYA BISNIS - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) diperkirakan akan menghadapi tekanan pada periode pascalibur Idulfitri.
Kondisi ini sejalan dengan menguatnya dolar AS serta meningkatnya ketidakpastian global yang masih membayangi pasar keuangan.
Dilansir dari Bisnis.com, pergerakan rupiah dalam waktu dekat diproyeksikan cenderung melemah dengan rentang perdagangan di kisaran Rp 16.990 hingga Rp 17.075 per dolar AS.
Proyeksi ini mencerminkan tekanan yang masih cukup kuat terhadap mata uang domestik.
Baca Juga: Harga Emas Antam Masih Bertahan, Belum Bergerak dari Posisi Sebelumnya
Penguatan dolar AS menjadi salah satu faktor utama yang mendorong pelemahan rupiah.
Mata uang tersebut mendapat dukungan dari kebijakan suku bunga tinggi yang masih dipertahankan oleh bank sentral global.
Kondisi ini membuat dolar AS menjadi lebih menarik bagi investor dibandingkan mata uang negara berkembang.
Selain itu, meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah juga turut memengaruhi pergerakan pasar.
Baca Juga: UPDATE TERBARU! Puncak Arus Balik Lebaran 24 Maret 2026, 285 Ribu Kendaraan Serbu Tol Trans Jawa
Situasi ini mendorong investor untuk mencari aset yang lebih aman, sehingga permintaan terhadap dolar AS sebagai safe haven meningkat.
Tidak hanya rupiah, tekanan juga dirasakan oleh mayoritas mata uang di kawasan Asia.
Yen Jepang dan won Korea Selatan, misalnya, tercatat mengalami depresiasi terhadap dolar AS.
Hal ini menunjukkan bahwa pelemahan tidak hanya terjadi secara domestik, tetapi juga dipengaruhi oleh sentimen global yang lebih luas.
Kondisi tersebut mencerminkan bahwa pasar keuangan saat ini masih berada dalam fase ketidakpastian.
Pelaku pasar cenderung bersikap hati-hati dalam mengambil keputusan investasi, terutama di tengah dinamika geopolitik dan arah kebijakan moneter global.
Baca Juga: Pemerintah Bakal Bangun Lagi 104 Sekolah Rakyat Asrama Gratis di Wilayah Miskin Ekstrem
Ke depan, pergerakan rupiah diperkirakan akan sangat dipengaruhi oleh perkembangan kondisi global, termasuk kebijakan suku bunga bank sentral utama dunia serta stabilitas geopolitik internasional.
Di sisi lain, respons kebijakan dari otoritas dalam negeri juga akan menjadi faktor penting dalam menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.
Dengan berbagai sentimen tersebut, pelaku pasar diharapkan terus memantau perkembangan kurs secara berkala guna mengantisipasi potensi pergerakan yang dapat terjadi sewaktu-waktu. (iza/han)
Editor : Hany Akasah