RADAR SURABAYA BISNIS - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) mencatatkan penguatan tipis pada perdagangan Rabu (18/3/2026).
Pergerakan positif ini terjadi menjelang periode libur panjang Hari Raya Nyepi dan Idulfitri, di tengah dinamika pasar global yang masih dipenuhi ketidakpastian.
Berdasarkan data Bloomberg pada pukul 09.26 WIB di pasar spot, rupiah berada di level Rp 16.955 per dolar AS.
Posisi ini menunjukkan penguatan sekitar 0,25 persen dibandingkan dengan penutupan perdagangan sebelumnya.
Baca Juga: Usai Turun, Harga Emas Antam Berbalik Menguat Rp 8.000 pada Perdagangan Hari Ini
Penguatan rupiah terjadi di tengah pergerakan dolar AS yang cenderung tertahan.
Pelaku pasar saat ini tengah mencermati sejumlah agenda penting, termasuk keputusan dari berbagai bank sentral dunia yang dinilai dapat memengaruhi arah kebijakan moneter ke depan.
Di tengah kondisi tersebut, Bank Indonesia (BI) menegaskan komitmennya untuk terus menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, bahkan selama periode libur panjang.
Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, memastikan bahwa kehadiran BI di pasar keuangan tidak akan terhenti meskipun aktivitas domestik mengalami jeda libur.
Baca Juga: Perkuat Ketahanan Energi, RI Jajaki Peluang Impor Minyak dari Rusia dan Brunei
Menurutnya, BI akan tetap aktif melakukan intervensi baik di pasar dalam negeri maupun di pasar luar negeri.
“Kita boleh libur Lebaran di sini, offshore Non-Deliverable Forward (NDF) terus berjalan dan BI New York juga akan terus mengawal rupiah di luar negeri,” kata Perry dalam konferensi pers hasil RDG BI secara daring di Jakarta, dikutip dari Antara, Rabu, 18 Maret 2026.
Hal ini dilakukan guna menjaga pergerakan rupiah tetap stabil di tengah potensi gejolak pasar global.
Ia juga menambahkan bahwa aktivitas perdagangan di pasar offshore tetap berlangsung, termasuk melalui instrumen Non-Deliverable Forward (NDF).
Oleh karena itu, BI juga akan memantau dan menjaga pergerakan rupiah di pasar internasional melalui perwakilan yang berada di luar negeri.
Langkah ini dinilai penting untuk memastikan stabilitas nilai tukar rupiah tetap terjaga, terutama saat likuiditas pasar domestik cenderung menurun selama masa libur panjang.
Baca Juga: Daftar Sayuran yang Paling Cepat Memicu Asam Urat, Nomor 2 Paling Sering Dikonsumsi
Pergerakan rupiah ke depan diperkirakan masih akan sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor global, termasuk perkembangan kebijakan bank sentral utama dunia serta kondisi geopolitik internasional.
Di sisi lain, respons kebijakan dari Bank Indonesia juga akan menjadi faktor kunci dalam menjaga kepercayaan pasar terhadap stabilitas ekonomi domestik.
Dengan adanya komitmen kuat dari otoritas moneter, diharapkan nilai tukar rupiah dapat tetap bergerak stabil meskipun di tengah tekanan dan ketidakpastian yang masih membayangi pasar global. (iza/han)
Editor : Hany Akasah