RADAR SURABAYA BISNIS - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali mengalami tekanan pada perdagangan awal pekan, Senin (16/3/2026).
Pergerakan mata uang rupiah ini masih dipengaruhi berbagai sentimen baik dari dalam negeri maupun kondisi global.
Berdasarkan data Bloomberg pada pukul 09.10 WIB di pasar spot exchange, rupiah tercatat melemah sebesar 122 poin atau sekitar 0,07 persen ke level Rp 16.970 per dolar AS.
Di sisi lain, indeks dolar AS pada perdagangan pagi ini justru mengalami penurunan tipis sebesar 0,09 persen ke posisi 100,26.
Baca Juga: Cek Harga Emas Antam Tiarap Lagi pada 16 Maret 2026, Buyback Turut Melemah
Meski demikian, pelemahan dolar tersebut belum mampu mendorong penguatan rupiah di pasar valuta asing.
Tekanan terhadap rupiah dipicu oleh meningkatnya kekhawatiran pasar terkait potensi pelebaran defisit anggaran pemerintah pada tahun ini.
Sentimen tersebut membuat sebagian pelaku pasar cenderung bersikap lebih hati-hati dalam menempatkan dana di aset berisiko, termasuk mata uang negara berkembang.
Selain faktor domestik, meningkatnya ketidakpastian geopolitik global juga turut memberikan tekanan terhadap pergerakan rupiah.
Baca Juga: Serap Aspirasi UMKM Surabaya, DPD RI Lia Istfhama Temukan Kendala Akses KUR Akibat SLIK OJK
Situasi geopolitik yang belum sepenuhnya stabil membuat investor global lebih selektif dalam mengambil keputusan investasi.
Kondisi ini semakin terasa menjelang periode libur panjang Idulfitri, di mana aktivitas pasar biasanya mulai melambat dan pelaku pasar memilih mengamankan posisi mereka.
Pergerakan mata uang di kawasan Asia pada perdagangan hari ini juga terlihat bervariasi.
Sejumlah mata uang tercatat mengalami pelemahan terhadap dolar AS, termasuk baht Thailand yang terkoreksi sekitar 0,47 persen.
Selain itu, rupee India juga melemah sekitar 0,28 persen, peso Filipina turun 0,21 persen, dan dolar Taiwan terkoreksi tipis sebesar 0,01 persen.
Di sisi lain, beberapa mata uang Asia lainnya justru menunjukkan penguatan.
Yen Jepang tercatat naik sekitar 0,16 persen, diikuti dolar Singapura yang menguat 0,15 persen.
Sementara itu, yuan China juga mencatat penguatan sebesar 0,09 persen, won Korea Selatan naik 0,07 persen, ringgit Malaysia menguat 0,11 persen, serta dolar Hong Kong yang bergerak naik tipis sekitar 0,01 persen.
Pergerakan yang beragam di kawasan Asia ini menunjukkan bahwa pasar keuangan global masih dibayangi berbagai ketidakpastian, baik dari sisi ekonomi maupun geopolitik.
Baca Juga: Nasib Jembatan Petekan Surabaya Bikin Miris, Dulu Gerbang Kapal di Kalimas Kini Nyaris Runtuh
Ke depan, arah pergerakan rupiah diperkirakan masih akan sangat bergantung pada perkembangan kondisi global serta sentimen domestik, termasuk kebijakan fiskal dan stabilitas ekonomi nasional. (iza/han)
Editor : Hany Akasah