RADAR SURABAYA BISNIS - Iran tengah mempertimbangkan kebijakan baru yang berpotensi memengaruhi dinamika perdagangan energi global.
Negara tersebut dikabarkan sedang mengkaji kemungkinan mengubah sistem transaksi bagi kapal tanker minyak yang melintas di Selat Hormuz dengan menggunakan mata uang yuan dari Tiongkok, menggantikan penggunaan dolar Amerika Serikat yang selama ini menjadi acuan utama dalam perdagangan minyak dunia.
Wacana kebijakan ini muncul di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah.
Dalam beberapa pekan terakhir, Selat Hormuz dilaporkan berada dalam pengawasan yang jauh lebih ketat menyusul konflik yang berkembang di kawasan tersebut.
Baca Juga: Harga Emas Pegadaian Stabil, Ini Daftar Harga Galeri24 dan UBS per 15 Maret 2026
Jalur pelayaran strategis ini dijaga secara intensif karena menjadi salah satu titik krusial bagi distribusi energi dunia.
Sejumlah laporan media internasional menyebutkan bahwa Iran saat ini juga membatasi kapal yang diizinkan melintas di Selat Hormuz.
Kapal tanker minyak yang hendak melewati jalur tersebut dikabarkan harus mengikuti aturan baru yang sedang dipertimbangkan, termasuk kemungkinan menggunakan yuan sebagai alat transaksi pengganti dolar AS.
Langkah ini dinilai dapat memberikan dampak signifikan terhadap sistem perdagangan energi global.
Baca Juga: Haji 2026 di Tengah Gejolak Geopolitik, Dana Triliunan Rupiah dan Nasib Industri Umrah-Haji Terancam
Selama puluhan tahun, dolar Amerika Serikat menjadi mata uang dominan dalam transaksi minyak internasional. Apabila pembayaran dengan yuan benar-benar diterapkan, perubahan tersebut berpotensi memengaruhi harga minyak global serta memicu dinamika baru dalam sistem keamanan energi dunia.
Selain itu, kebijakan tersebut juga diperkirakan akan memperkuat posisi Iran dalam perdagangan energi internasional.
Dengan kontrol terhadap jalur pelayaran strategis di Selat Hormuz sekaligus kemungkinan pengaturan sistem transaksi, Iran dapat memainkan peran yang lebih besar dalam arus perdagangan minyak global.
Penggunaan yuan dalam transaksi energi juga dinilai dapat mempercepat upaya internasionalisasi mata uang China di pasar global.
Jika diterapkan secara luas, perubahan sistem pembayaran ini berpotensi mengguncang struktur perdagangan energi global yang selama ini bergantung pada dolar sebagai mata uang utama.
Baca Juga: BRIN Ungkap Potensi Industri Satelit, Indonesia Siap Produksi Mandiri
Sebagai salah satu jalur energi paling vital di dunia, Selat Hormuz memiliki peran yang sangat strategis dalam distribusi minyak dan gas alam cair (LNG).
Diperkirakan sekitar 20 persen pasokan minyak dan LNG global setiap tahunnya melewati jalur sempit yang menghubungkan kawasan Teluk Persia dengan berbagai pasar energi internasional tersebut.
Apabila kebijakan baru Iran benar-benar diberlakukan, dampaknya tidak hanya akan dirasakan pada arus pelayaran di Selat Hormuz.
Langkah ini juga berpotensi mempercepat perubahan dalam sistem perdagangan energi global sekaligus mempererat hubungan energi antara Teheran dan Beijing di tengah dinamika geopolitik dunia yang terus berkembang. (iza/han)
Editor : Hany Akasah