Industri & Perdagangan Infrastruktur Otomotif Perbankan & Keuangan Person of The Year Properti Transportasi & Logistik Wisata & Kuliner

Rupiah Terpuruk ke Rp 16.932 per Dolar AS, Tertekan Konflik Timur Tengah dan Kekhawatiran APBN

Hany Akasah • Jumat, 13 Maret 2026 | 11:53 WIB

 

ILUSTRASI : Mata uang rupiah yang melemah pada perdagangan Jumat (13/3/2026).
ILUSTRASI : Mata uang rupiah yang melemah pada perdagangan Jumat (13/3/2026).

RADAR SURABAYA BISNIS - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali mengalami tekanan pada perdagangan Jumat (13/3/2026) siang.

Pelemahan mata uang rupiah dipicu oleh meningkatnya ketidakpastian global akibat konflik yang terus memanas di kawasan Timur Tengah, khususnya antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel.

Berdasarkan data Bloomberg pada pukul 11.13 WIB di pasar spot exchange, rupiah tercatat melemah sebesar 39 poin atau 0,23 persen ke level Rp 16.932 per dolar AS.

Pada saat yang sama, indeks dolar AS justru mengalami penguatan sebesar 0,24 persen ke posisi 99,46.

Penguatan dolar AS terhadap sejumlah mata uang global turut memberi tekanan pada pergerakan rupiah di pasar valuta asing.

Sentimen geopolitik yang belum mereda membuat pelaku pasar cenderung mencari aset yang dianggap lebih aman, termasuk dolar AS.

Selain faktor eksternal, tekanan terhadap rupiah juga dipicu oleh kekhawatiran pasar terhadap kondisi fiskal dalam negeri, khususnya terkait potensi defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tahun 2026.

Ketidakpastian mengenai ruang fiskal pemerintah menjadi salah satu pertimbangan investor dalam menentukan arah investasi di pasar keuangan Indonesia.

Sebelumnya, pada perdagangan Kamis (12/3/2026), nilai tukar rupiah juga telah ditutup melemah sebesar 7 poin ke posisi Rp 16.893 per dolar AS.

Tren pelemahan ini menunjukkan bahwa sentimen global masih cukup dominan memengaruhi pergerakan mata uang domestik.

Konflik geopolitik di Timur Tengah dalam beberapa waktu terakhir menjadi salah satu faktor utama yang memicu volatilitas di pasar keuangan global.

Ketegangan antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel meningkatkan kekhawatiran terhadap stabilitas kawasan serta potensi gangguan terhadap pasokan energi dunia.

Kondisi tersebut mendorong investor global untuk bersikap lebih berhati-hati dalam menempatkan dana mereka di pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.

Akibatnya, mata uang negara berkembang seperti rupiah cenderung mengalami tekanan ketika ketidakpastian global meningkat.

Ke depan, pergerakan rupiah diperkirakan masih akan sangat dipengaruhi oleh perkembangan konflik geopolitik serta dinamika ekonomi global, termasuk arah kebijakan moneter Amerika Serikat dan kondisi fiskal domestik. (iza/han)

Editor : Hany Akasah
#perdagangan #rupiah #dolar as #konflik timur tengah #uang #Rupiah hari ini