RADAR SURABAYA BISNIS - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) menunjukkan penguatan tipis pada perdagangan Selasa (10/3/2026).
Berdasarkan data yang dilansir dari Bloomberg, rupiah tercatat berada di level Rp 16.869 per dolar AS pada pembaruan pukul 09.10 WIB.
Penguatan ini menjadi sinyal positif setelah sebelumnya rupiah sempat berada di bawah tekanan akibat berbagai sentimen global, termasuk meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah.
Pergerakan rupiah pada perdagangan hari ini juga sejalan dengan tren mayoritas mata uang Asia yang bergerak di zona hijau.
Beberapa mata uang regional seperti baht Thailand, ringgit Malaysia, peso Filipina, dolar Taiwan, yuan China, won Korea Selatan, serta yen Jepang tercatat menguat terhadap dolar AS.
Sementara itu, tidak semua mata uang kawasan menunjukkan penguatan.
Dolar Singapura dan dolar Hong Kong terpantau masih mengalami pelemahan pada perdagangan pagi ini.
Penguatan rupiah dan sejumlah mata uang Asia tersebut didorong oleh meningkatnya optimisme pasar terhadap kondisi geopolitik global, khususnya terkait konflik di kawasan Timur Tengah.
Pelaku pasar mulai melihat adanya potensi meredanya ketegangan yang sebelumnya memicu gejolak di pasar keuangan global.
Sentimen positif ini membuat sebagian investor kembali masuk ke aset berisiko, termasuk mata uang negara berkembang seperti rupiah.
Kondisi tersebut memberikan dorongan bagi penguatan rupiah dalam perdagangan hari ini.
Meski demikian, pelaku pasar masih mencermati perkembangan situasi global yang dapat berubah sewaktu-waktu.
Ketidakpastian geopolitik masih menjadi faktor utama yang memengaruhi pergerakan pasar valuta asing dalam beberapa waktu terakhir.
Dalam beberapa pekan ke depan, arah pergerakan rupiah diperkirakan masih akan sangat bergantung pada stabilitas geopolitik global, terutama terkait perkembangan konflik di Timur Tengah.
Selain itu, persepsi pasar terhadap fundamental ekonomi domestik juga turut memengaruhi sentimen terhadap mata uang Indonesia.
Apabila ketegangan geopolitik kembali meningkat, tekanan terhadap rupiah berpotensi muncul kembali.
Sebaliknya, jika kondisi global mulai stabil, rupiah memiliki peluang untuk bergerak lebih kuat seiring meningkatnya kepercayaan investor terhadap pasar keuangan. (iza/han)
Editor : Hany Akasah