Industri & Perdagangan Infrastruktur Otomotif Perbankan & Keuangan Person of The Year Properti Transportasi & Logistik Wisata & Kuliner

Tembus Rp 17.000! Rupiah Anjlok ke Rp 17.015 per Dolar AS di Tengah Tekanan Global

Hany Akasah • Senin, 9 Maret 2026 | 10:02 WIB

ILUSTRASI: Enam bendel uang rupiah bernilai Rp 100.000 dan Rp 50.000
ILUSTRASI: Enam bendel uang rupiah bernilai Rp 100.000 dan Rp 50.000

RADAR SURABAYA BISNIS - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali mengalami tekanan pada perdagangan Senin (9/3/2026).

Di pasar spot, mata uang rupiah sempat menyentuh level psikologis Rp 17.000 per dolar AS yang selama ini menjadi perhatian pelaku pasar.

Pada pembukaan perdagangan pagi, rupiah tercatat melemah sekitar 0,64 persen dan berada di posisi Rp 17.015 per dolar AS.

Pelemahan tersebut terjadi setelah indeks dolar AS menunjukkan penguatan sekitar 0,7 persen ke level 99,67.

Namun tak lama setelah pembukaan pasar, rupiah sempat bergerak lebih defensif.

Baca Juga: Harga Emas Antam Turun Rp 55.000 pada 9 Maret 2026, Kini di Level Rp 3.004.000 per Gram

Berdasarkan data Bloomberg, pada pukul 09.04 WIB, nilai tukar rupiah berada di kisaran Rp 16.989 per dolar AS, meski masih berada dalam tekanan dibandingkan posisi sebelumnya.

Pergerakan ini melanjutkan tren pelemahan yang sudah terlihat pada perdagangan sebelumnya. Pada Jumat (6/3/2026), rupiah ditutup melemah sekitar 20 poin dan berada di level Rp16.925 per dolar AS.

Tekanan terhadap rupiah dipicu oleh meningkatnya sentimen global, khususnya terkait konflik di kawasan Timur Tengah yang telah berlangsung selama sekitar satu pekan.

Ketegangan geopolitik tersebut meningkatkan kekhawatiran pelaku pasar terhadap stabilitas ekonomi global.

Negara-negara di kawasan Asia turut merasakan dampaknya, mengingat sebagian besar memiliki ketergantungan cukup tinggi terhadap impor energi, khususnya minyak.

Baca Juga: Peraturan Sosmed untuk Anak Resmi Diterbitkan, TikTok hingga Instagram Terdampak, Berikut Aturannya

Situasi ini semakin diperburuk oleh kebijakan Uni Emirat Arab dan Kuwait yang memangkas produksi minyak di tengah memanasnya konflik di kawasan tersebut.

Pengurangan pasokan minyak global berpotensi mendorong kenaikan harga energi di pasar internasional.

Kondisi tersebut dapat berdampak langsung terhadap perekonomian negara-negara pengimpor energi, termasuk di Asia.

Selain itu, konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran juga memicu kekhawatiran akan terganggunya rantai pasokan energi global.

Jika kondisi ini berlanjut, pasar khawatir akan muncul gelombang inflasi baru yang dapat memengaruhi stabilitas ekonomi dan pasar keuangan dunia.

Baca Juga: Rahasia Ketupat Antigagal, Tekstur Padat dan Tidak Cepat Basi Wajib Coba!

Di tengah kondisi tersebut, pelaku pasar cenderung beralih ke aset yang dianggap lebih aman, termasuk dolar AS.

Hal ini membuat mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, mengalami tekanan di pasar valuta asing.

Dengan berbagai sentimen global yang masih membayangi, pergerakan rupiah dalam jangka pendek diperkirakan masih akan dipengaruhi oleh perkembangan situasi geopolitik serta dinamika harga energi dunia. (iza/han)

Editor : Hany Akasah
#perdagangan #rupiah #konflik timur tengah #uang #Rupiah hari ini #mata uang