RADAR SURABAYA BISNIS - Bank Indonesia (BI) melaporkan bahwa cadangan devisa (cadev) posisi bulan Februari 2026 berada di angka USD 151,9 miliar.
Jumlah itu turun USD 2,7 miliar dari posisi bulan sebelumny (Januari) yakni USD 154,6 miliar.
Kepala Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso mengatakan, perkembangan terbaru posisi cadangan devisa itu dipengaruhi oleh penerimaan pajak dan jasa serta penarikan pinjaman luar negeri pemerintah.
Nilainya turun di tengah pembayaran utang luar negeri pemerintah dan kebijakan stabilisasi nilai tukar rupiah, sebagai respons bank sentral dalam menghadapi ketidakpastian pasar keuangan global yang tetap tinggi.
"Bank Indonesia menilai cadangan devisa tersebut mampu mendukung ketahanan sektor eksternal serta menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan," terang Denny dalam keterangan tertulis, Jumat (6/3/2026).
"Bank Indonesia terus meningkatkan sinergi dengan pemerintah dalam memperkuat ketahanan eksternal guna menjaga stabilitas perekonomian untuk mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan," ujar Denny.
Sebelumnya, otoritas moneter berkomitmen untuk terus mempertebal posisi cadangan devisa pada tahun ini guna menjaga ketahanan eksternal ekonomi nasional, usai posisinya cenderung stagnan sepanjang tahun lalu.
Gubernur BI Perry Warjiyo menyatakan bahwa posisi cadangan devisa yang tercatat sebesar USD 156,5 miliar pada akhir Desember 2025, tidak hanya akan dipertahankan, tetapi akan terus ditingkatkan ke depannya.
Menurutnya, kecukupan cadangan devisa menjadi salah satu pilar utama dalam bauran kebijakan moneter BI yang mengusung slogan pro-stability (mempertahankan stabilitas) dan pro-growth (mendukung pertumbuhan).
"Terutama juga ketahanan eksternal melalui kecukupan cadangan devisa. USD 156,5 miliar cadangan devisa kami terus akan jaga dan kami upayakan akan lebih meningkat untuk menjaga ketahanan eksternal ekonomi kita," ujarnya dalam Peluncuran Laporan Perekonomian Indonesia 2025, Rabu (28/1/2026). (uta/opi)
Editor : Nofilawati Anisa