RADAR SURABAYA BISNIS – Di tengah tuntutan dunia kerja yang semakin kompetitif, menjaga ketajaman kognitif karyawan menjadi aset tak berwujud yang sangat berharga bagi perusahaan.
Sebuah riset terbaru menunjukkan bahwa investasi waktu pada hobi kreatif bukan sekadar rekreasi, melainkan strategi bisnis untuk mempertahankan performa otak yang awet muda.
Berdasarkan studi internasional berskala besar yang melibatkan peneliti dari Trinity College Dublin dan Universitas SWPS Polandia, aktivitas kreatif seperti musik, seni visual, hingga permainan video strategi (misalnya StarCraft II) terbukti secara biologis mampu menjaga struktur otak tetap tajam meskipun usia bertambah.
Dampak pada Performa Profesional
Dalam konteks bisnis, temuan ini memperkuat urgensi program corporate wellness yang lebih dari sekadar kesehatan fisik.
Data dari 1.400 orang dewasa di seluruh dunia menunjukkan bahwa mereka yang menekuni hobi kreatif memiliki pola otak yang lebih muda dibandingkan usia kronologisnya.
"Aktivitas kreatif memperkuat jaringan otak yang bertanggung jawab untuk koordinasi, perhatian, gerakan, dan pemecahan masalah," tulis laporan tersebut. Bagi para pemimpin bisnis, hal ini berarti karyawan yang aktif secara kreatif cenderung memiliki kemampuan problem-solving dan fokus yang lebih tinggi.
Hobi sebagai 'Brain Training' untuk Eksekutif
Yang menarik, studi ini juga menyoroti peran video game berbasis strategi. Hanya dalam beberapa minggu pelatihan, pemula yang bermain game strategi menunjukkan perubahan nyata dalam keterampilan kreatif dan ketangkasan mental.
Hal ini menunjukkan bahwa stimulasi kognitif dapat dijadikan instrumen untuk meningkatkan human capital secara cepat dan efektif.
Dengan menjaga otak tetap muda, para profesional dapat memitigasi risiko penurunan fungsi kognitif yang biasanya mengganggu pengambilan keputusan strategis di masa tua.
Baca Juga: Emas Antam Kembali Menguat pada 5 Maret 2026, Harga 1 Gram Naik ke Rp 3.049.000
Industri masa depan diprediksi akan semakin menghargai keseimbangan antara produktivitas kerja dan waktu luang yang berkualitas sebagai modal utama keberlanjutan bisnis.
Editor : Hany Akasah