RADAR SURABAYA BISNIS - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) tercatat menguat pada perdagangan Kamis, 5 Maret 2026.
Meski menunjukkan penguatan yang tipis, pergerakan ini memberikan sedikit ruang penguatan setelah sebelumnya rupiah berada dalam tren tekanan.
Pada pembukaan perdagangan, rupiah naik sekitar 0,03 persen dan berada di level Rp 16.880 per dolar AS.
Kenaikan tipis tersebut mencerminkan respons pasar yang masih berhati-hati di tengah berbagai sentimen yang berkembang, baik dari dalam maupun luar negeri.
Penguatan rupiah juga terjadi seiring dengan pergerakan sejumlah mata uang Asia lainnya yang bergerak di zona positif. Yen Jepang, misalnya, tercatat terapresiasi sekitar 0,07 persen ke level 98,7.
Kondisi ini menunjukkan bahwa sentimen regional pada awal perdagangan relatif kondusif, meski belum cukup kuat untuk mendorong penguatan signifikan.
Baca Juga: Emas Antam Kembali Menguat pada 5 Maret 2026, Harga 1 Gram Naik ke Rp 3.049.000
Namun demikian, berdasarkan laporan Bloomberg, pergerakan rupiah sepanjang hari ini diperkirakan masih akan dipengaruhi kekhawatiran investor terhadap kondisi pasar domestik.
Sentimen tersebut semakin diperkuat oleh langkah Fitch Ratings yang menurunkan outlook Indonesia dari stabil menjadi negatif.
Revisi prospek ini menjadi perhatian pelaku pasar karena dinilai dapat memengaruhi persepsi risiko terhadap aset dalam negeri.
Di sisi eksternal, eskalasi konflik di Timur Tengah juga masih membayangi pasar keuangan global.
Ketidakpastian geopolitik tersebut mendorong investor cenderung bersikap selektif terhadap aset berisiko, termasuk mata uang negara berkembang.
Dalam kondisi seperti ini, pergerakan rupiah dinilai masih rentan terhadap tekanan lanjutan.
Baca Juga: Demi Cadangan untuk Anak Cucu, Indonesia Andalkan Impor Nikel dari Filipina
Secara kumulatif sejak awal tahun, rupiah telah melemah sekitar 1,15 persen. Di antara mata uang Asia, posisi tersebut menempatkan rupiah sebagai yang terlemah ketiga.
Rupee India tercatat mengalami depresiasi lebih dalam sebesar 2,47 persen, disusul won Korea Selatan yang melemah 1,59 persen.
Kombinasi sentimen domestik dan global yang belum sepenuhnya kondusif membuat arah pergerakan rupiah dalam jangka pendek masih bergantung pada perkembangan terbaru di pasar keuangan.
Meski dibuka menguat, pelaku pasar tetap mencermati potensi volatilitas yang dapat muncul sewaktu-waktu. (iza/han)
Editor : Hany Akasah