RADAR SURABAYA BISNIS - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) diperkirakan masih melanjutkan tren pelemahan pada perdagangan Rabu, 4 Maret 2026.
Sentimen global, khususnya konflik geopolitik di kawasan Timur Tengah, masih menjadi faktor utama yang membayangi pergerakan pasar keuangan.
Mengacu pada data Bloomberg saat pembukaan perdagangan pagi ini, rupiah tercatat kembali tertekan terhadap dolar AS.
Mata uang Indonesia ini melemah sekitar 0,43 persen dan bergerak di kisaran Rp 16.929 per dolar AS.
Posisi tersebut membuat rupiah semakin mendekati level Rp17.000 per dolar AS yang selama ini menjadi perhatian pelaku pasar.
Tekanan terhadap rupiah tidak hanya terjadi dalam satu sesi perdagangan.
Dalam lima hari terakhir rupiah telah terdepresiasi sekitar 0,43 persen. Pergerakan ini mencerminkan tekanan yang masih berlangsung di tengah dinamika global.
Jika dibandingkan dengan sejumlah mata uang Asia lainnya, pelemahan rupiah memang tidak menjadi yang terdalam.
Dalam periode yang sama, won Korea Selatan mencatatkan pelemahan paling signifikan hingga sekitar 3,7 persen.
Disusul baht Thailand yang turun 2,03 persen, peso Filipina 1,89 persen, ringgit Malaysia 1,46 persen, serta dolar Taiwan sebesar 1,31 persen.
Eskalasi konflik geopolitik yang terus berkembang membuat pelaku pasar global cenderung bersikap lebih berhati-hati terhadap aset berisiko, termasuk mata uang negara berkembang.
Ketidakpastian tersebut mendorong investor untuk lebih selektif dalam menempatkan dananya.
Selain itu, potensi dampak lanjutan dari konflik juga menjadi perhatian.
Apabila ketegangan yang terjadi memicu lonjakan harga minyak dunia dalam jangka waktu yang panjang, maka risiko inflasi berpotensi meningkat.
Kenaikan harga energi dapat mendorong biaya impor menjadi lebih mahal, yang pada akhirnya memberi tekanan tambahan terhadap perekonomian.
Dengan kombinasi sentimen eksternal tersebut, pergerakan rupiah dalam jangka pendek masih sangat dipengaruhi perkembangan situasi global, terutama terkait dinamika geopolitik dan dampaknya terhadap pasar komoditas. (iza/han)
Editor : Hany Akasah