RADAR SURABAYA BISNIS- Nilai tukar rupiah dibuka melemah pada awal perdagangan hari ini.
Berdasarkan data Refinitiv, mata uang rupiah terdepresiasi 0,03 persen ke posisi Rp 16.820 per dolar Amerika Serikat (AS). Pelemahan ini melanjutkan tren negatif pada perdagangan sebelumnya, Selasa (24/2/2026), ketika rupiah ditutup turun 0,18 persen di level Rp 16.815 per dolar AS.
Tekanan terhadap rupiah juga tercermin di pasar Non-Deliverable Forwards (NDF).
Kontrak rupiah terhadap dolar AS kembali menunjukkan pelemahan pada perdagangan, dipengaruhi meningkatnya persepsi premi risiko di tengah ketidakstabilan geopolitik.
Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat yang kembali memanas masih menjadi salah satu faktor yang membebani sentimen pelaku pasar.
Di sisi lain, indeks dolar AS (DXY) pada pukul 09.00 WIB tercatat melemah tipis 0,02 persen ke level 97,827. Meski demikian, pada penutupan perdagangan sebelumnya indeks tersebut masih menguat 0,14 persen, mencerminkan posisi dolar yang relatif tetap kuat di pasar global.
Sentimen eksternal lainnya berasal dari arah kebijakan tarif Amerika Serikat. Setelah Mahkamah Agung AS membatalkan pungutan tarif yang diberlakukan melalui aturan darurat, pemerintah AS menetapkan tarif baru sebesar 10 persen untuk sejumlah barang di luar daftar pengecualian.
Baca Juga: Pulang Kampung Tanpa Biaya? Pendaftaran Mudik Gratis Radar Surabaya 2026 Langsung Diserbu Warga
Pemerintah juga membuka kemungkinan kenaikan tarif hingga 15% persen sebagaimana yang direncanakan Presiden AS, Donald Trump.
Di tengah dinamika tersebut, pelaku pasar masih menunggu respons dari negara-negara mitra dagang serta sinyal lanjutan dari pemerintah Amerika Serikat terkait kebijakan tarif berikutnya.
Situasi yang belum pasti ini dinilai berpotensi mempertahankan volatilitas di pasar valuta asing, termasuk berdampak pada pergerakan rupiah sepanjang sesi perdagangan hari ini. (iza/han)
Editor : Hany Akasah