RADAR SURABAYA BISNIS – Fenomena "Generasi Sandwich" kini bukan lagi sekadar isu sosial, melainkan tantangan ekonomi nyata bagi kelompok produktif di Indonesia.
Data menunjukkan bahwa sekitar 48,7 persen penduduk usia 25-45 tahun saat ini memikul beban finansial ganda: menopang kebutuhan orang tua sekaligus keluarga inti mereka sendiri.
Kondisi ini diperberat dengan laju inflasi tahunan yang mencapai 2,92 persen hingga akhir 2025. Akibatnya, ketergantungan pada satu sumber penghasilan dianggap tidak lagi mencukupi untuk menjaga stabilitas finansial jangka panjang.
Pekerjaan Sampingan Jadi Kebutuhan Utama
Laporan riset pasar terbaru mencatat pergeseran perilaku ekonomi yang signifikan pada Gen Z dan Milenial. Sebanyak 63 persen anak muda kini tercatat memiliki pekerjaan sampingan (side hustle) untuk membantu ekonomi keluarga.
Karin Zulkarnaen, seorang praktisi industri keuangan, menyoroti bahwa perubahan pola kerja ini didorong oleh kebutuhan mendesak.
"Kebutuhan akan literasi finansial yang relevan sekaligus peluang penghasilan yang fleksibel inilah yang mendorong [pentingnya program pemberdayaan] bagi generasi muda," ujarnya dalam sebuah diskusi mengenai kewirausahaan digital.
Pentingnya Literasi Keuangan Digital
Memiliki pendapatan tambahan melalui platform digital kini menjadi strategi populer. Namun, pertumbuhan usaha kreatif tanpa manajemen keuangan yang baik seringkali berujung pada kegagalan jangka pendek.
Karin menekankan bahwa kecakapan mengelola uang adalah fondasi utama bagi para pengusaha baru. "Di tengah peluang tersebut, penguatan literasi dan perencanaan finansial menjadi kunci agar kreativitas dan pertumbuhan usaha dapat berjalan secara berkelanjutan," tambahnya.
Hal ini sejalan dengan tantangan di daerah seperti Bali dan Jawa Tengah, di mana pertumbuhan ekonomi berbasis komunitas digital sangat pesat namun tingkat literasi keuangan masyarakatnya masih perlu ditingkatkan agar mampu bersaing secara sehat di pasar yang kompetitif.
Editor : Hany Akasah