RADAR SURABAYA BISNIS – Fenomena belanja barang hobi, khususnya blind box seperti koleksi Labubu dan Cry Baby, kini bukan sekadar hobi koleksi biasa.
Bagi generasi Z, tren ini menjadi pelarian emosional di tengah ketidakpastian ekonomi, sebuah fenomena yang dikenal sebagai doom spending.
Berdasarkan data Tech in Asia pada Maret 2025, penggunaan layanan paylater di Indonesia mencatat lonjakan signifikan sebesar 39,3% secara tahunan (YoY), dengan nilai transaksi menyentuh angka fantastis Rp8,22 triliun.
Angka ini menjadi sinyal kuat bagaimana kemudahan akses kredit digital memfasilitasi kebiasaan belanja impulsif mahasiswa dan pekerja muda.
Secara ekonomi, perilaku ini berkaitan erat dengan Lipstick Effect. Di tengah krisis atau biaya hidup yang kian tinggi, konsumen cenderung membeli barang mewah kecil yang terjangkau demi menjaga moral dan kebahagiaan instan.
Bagi banyak mahasiswa dan pekerja muda, menabung untuk aset jangka panjang seperti rumah terasa mustahil.
Akibatnya, mereka memilih "berinvestasi" pada kebahagiaan yang bisa dipegang saat ini. Riset dari McKinsey International juga memperkuat temuan bahwa Gen Z jauh lebih rentan terjebak dalam pola belanja ini dibandingkan generasi sebelumnya.
Meskipun memberikan ketenangan sementara dari tekanan akademis dan personal, ketergantungan pada paylater membawa risiko finansial yang nyata.
Penggunaan dana pinjaman untuk kebutuhan emosional seringkali membuat seseorang mengalami ilusi kemampuan finansial.
Para ahli memperingatkan bahwa tanpa pengelolaan keuangan yang bijak, kesenangan dari membuka segel blind box hari ini bisa berubah menjadi beban utang yang mencekik di masa depan.
Menyeimbangkan kesehatan mental dan kesehatan dompet menjadi tantangan utama bagi generasi digital saat ini.
Editor : Hany Akasah