Industri & Perdagangan Infrastruktur Otomotif Perbankan & Keuangan Person of The Year Properti Transportasi & Logistik Wisata & Kuliner

Bukan Soal Uang, Ini Alasan 144 Juta Gen Z Indonesia Masih 'Alergi' Punya Asuransi

Hany Akasah • Kamis, 19 Februari 2026 | 09:23 WIB
ILUSTRASI: Anak muda Gen Z yang menjadi sasaran asuransi.
ILUSTRASI: Anak muda Gen Z yang menjadi sasaran asuransi.

RADAR SURABAYA BISNIS – Industri asuransi nasional kini tengah menghadapi tantangan sekaligus peluang besar dalam menggarap pasar Generasi Z dan Milenial. 

Meski mendominasi populasi Indonesia dengan jumlah lebih dari 144 juta jiwa, tingkat kepemilikan polis aktif di kalangan generasi muda ini ternyata masih sangat rendah.

Berdasarkan laporan Populix (2024), fakta mengejutkan terungkap: meski 54 persen Gen Z menyatakan tertarik membeli asuransi, nyatanya hanya 16 persen dari mereka yang memiliki polis aktif. 

Fenomena ini menunjukkan adanya jurang pemisah (gap) yang lebar antara minat dan realisasi proteksi finansial.

Hambatan Psikologis dan Budaya YOLO

Salah satu pemicu rendahnya penetrasi ini adalah persepsi bahwa asuransi merupakan produk yang rumit dan penuh istilah teknis. 

Di sisi lain, budaya gaya hidup seperti You Only Live Once (YOLO), cafe hopping, hingga pengeluaran untuk tiket konser musik masih jauh lebih diprioritaskan dibandingkan membayar premi bulanan.

Pengamat industri asuransi, Marah Kerma Mardame Manurung, mengungkapkan bahwa asuransi seringkali dianggap sebagai kebutuhan yang bisa ditunda. 

"Saat asuransi dipersepsikan kompleks dan sulit dipahami, maka produk ini dengan sendirinya keluar dari prioritas keuangan mereka," jelasnya dalam sebuah opini bisnis.

Transformasi Digital: Lima Langkah Strategis

Untuk mengatasi hambatan tersebut, industri asuransi mulai melakukan transformasi besar-besaran agar lebih relevan dengan gaya hidup digital. 

Terdapat lima langkah kunci yang kini mulai diadaptasi oleh para pelaku industri:

1. Simplicity: Menyederhanakan proses layanan dan penjelasan produk agar mudah dipahami secara instan.

2. Integrated Base: Mengintegrasikan produk asuransi ke dalam platform gaya hidup yang sering digunakan anak muda.

3. Personal Insurance: Menghadirkan produk yang fleksibel dan dapat disesuaikan dengan kebutuhan serta kemampuan finansial individu.

4. Customer Experience: Memanfaatkan teknologi chatbot yang responsif dan bahasa yang lebih membumi (non-teknis).

5. Keep Involving: Membangun keterlibatan berkelanjutan dengan nasabah, bukan sekadar hubungan saat bayar premi atau klaim.

Dukungan Regulator dan Literasi

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bersama Dewan Asuransi Indonesia (DAI) juga terus gencar mendorong literasi keuangan ke kampus-kampus. 

Langkah ini diharapkan dapat mengubah cara pandang Gen Z agar melihat asuransi bukan sebagai beban, melainkan instrumen solutif untuk menjaga stabilitas hidup di tengah ketidakpastian ekonomi global.

Dengan pendekatan yang lebih modular dan personal, industri asuransi optimistis dapat mengubah wajah perlindungan finansial menjadi lebih menarik bagi generasi yang serba digital ini.

Editor : Hany Akasah
#asuransi #Millenial #Gen Z #premi #YOLO