RADAR SURABAYA BISNIS – Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa memaparkan strategi pemerintah dalam mengelola transisi ekonomi nasional dengan target pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) sebesar 5,4 persen pada tahun 2026.
Strategi ini bertumpu pada tiga pilar utama yang mengadopsi konsep "Soemitronomics".
Dalam forum Bloomberg Technoz Economic Outlook 2026 di Jakarta, Menkeu menjelaskan bahwa pilar pembangunan ekonomi tersebut mencakup pertumbuhan ekonomi yang tinggi, pemerataan, dan stabilitas sosial.
Menurutnya, ketiga unsur ini saling terkait erat dalam menjaga momentum kemajuan nasional.
Aktivasi Mesin Pertumbuhan Sejak 2025
Upaya penguatan ekonomi ini sebenarnya telah dimulai sejak September 2025 melalui sinkronisasi kebijakan fiskal, moneter, dan sektor riil.
Pemerintah secara aktif mendorong kementerian, lembaga, hingga pemerintah daerah untuk mempercepat penyerapan belanja agar likuiditas segera mengalir ke masyarakat dan dunia usaha.
"Sektor fiskal kita dorong, moneter kita dorong, private kita dorong juga. Itu yang membalikkan arah ekonomi kita di akhir 3 bulan tahun lalu," ujar Purbaya.
Selain percepatan belanja, pemerintah juga telah menggeser dana sebesar Rp 200 triliun ke sektor perbankan.
Langkah ini bertujuan untuk memperkuat likuiditas dan memacu pertumbuhan kredit secara lebih cepat di tengah masyarakat.
Solusi Hambatan Bisnis dan Stabilitas Sosial
Untuk memperbaiki iklim investasi, pemerintah membentuk task force debottlenecking. Satuan tugas ini berfungsi sebagai wadah bagi pelaku bisnis untuk mengirimkan komplain secara daring terkait hambatan usaha yang mereka temui.
Setiap minggu, komplain tersebut akan disidangkan untuk mencari solusi konkret. "Akhir tahun saya akan hilangkan hampir semua bottleneck yang ada di dunia bisnis kita," tegas Menkeu.
Menkeu juga menggarisbawahi kaitan erat antara performa ekonomi dengan stabilitas sosial. Dengan capaian pertumbuhan ekonomi triwulan IV/2025 sebesar 5,39 persen—tertinggi dalam lima tahun terakhir pasca-pandemi—lapangan kerja pun terbuka lebih luas.
Ia menilai, kondisi ekonomi yang sehat secara alami meredam gejolak sosial dan aksi demonstrasi. "Kalau ekonominya bagus, mereka gampang cari kerja. Mereka akan sibuk cari kerja, ngapain demo, capek," pungkasnya.
Editor : Hany Akasah